Untuk urusan rasa, Hj. Yetti menyajikan potongan daging sapi yang relatif besar dengan komposisi lemak yang seimbang. Dagingnya sangat empuk karena proses marinasi dilakukan dalam waktu lama sehingga bumbu benar-benar masuk ke dalam serat daging. Ketika digigit, rasa gurih langsung mendominasi, kemudian diikuti manis khas gula merah dan sedikit aroma ketumbar yang lembut. Bagian luar daging sedikit karamel akibat proses pembakaran sehingga menghadirkan sensasi smokey yang khas.
Yang membuat pengalaman makan semakin lengkap adalah sambalnya. Tidak menggunakan bumbu kacang, sate disajikan bersama sambal kecap berisi tomat segar, bawang merah, cabai rawit, dan sedikit perasan jeruk limau. Rasa segar tomat berpadu dengan pedas cabai membuat setiap gigitan terasa semakin nikmat. Pendamping seperti ketan bakar, nasi timbel, sop sapi, hingga es kelapa muda juga menjadi favorit pengunjung.
2. Sate Maranggi Kolong, Hidden Gem dengan Aroma Arang yang Sangat Tradisional
Alamat: Kampung Cihuni, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Baca Juga:Rekomendasi Tempat Pensiun yang Menawarkan Ketenangan dan Keindahan Alam di Subang SelatanSatpol PP Karawang Kawal Penertiban Bangunan Liar untuk Dukung Normalisasi Kali Apur
Berbeda jauh dengan Hj. Yetti yang modern dan besar, Sate Maranggi Kolong justru menawarkan pengalaman makan yang sederhana. Lokasinya berada di bawah kawasan jembatan sehingga masyarakat mengenalnya dengan sebutan “Sate Kolong”. Meski tampil sederhana, justru di sinilah banyak warga Purwakarta mengatakan cita rasa maranggi yang paling autentik masih bisa ditemukan.
Bangunannya berupa warung sederhana dengan meja kayu dan suasana pedesaan yang tenang. Tidak ada dekorasi mewah ataupun pendingin ruangan. Pengunjung datang murni untuk menikmati rasa sate yang telah dipertahankan turun-temurun. Proses pembakaran masih menggunakan arang kayu tanpa bantuan blower sehingga aroma asap yang dihasilkan jauh lebih pekat.
Karakter satenya memiliki cita rasa manis gurih yang sangat kuat. Potongan daging diselingi gajih sehingga ketika dibakar, lemaknya meleleh perlahan dan membuat tekstur sate terasa sangat juicy. Marinasi gula merah dan ketumbar terasa dominan, sementara bagian luar sate sedikit gosong sehingga menghasilkan aroma karamel yang menggoda.
Pelengkapnya berupa sambal tomat ulek kasar, cabai rawit hijau, dan sambal oncom khas Sunda yang menghadirkan sensasi pedas gurih berbeda dari sate maranggi pada umumnya. Menikmati sate di warung sederhana sambil mendengar suara kendaraan sesekali melintas justru menjadi pengalaman yang membuat banyak pelanggan selalu kembali.
