Angka tersebut mungkin terlihat biasa jika hanya menghitung satu mangkuk. Tetapi model bisnis mi ayam bukan mengandalkan keuntungan besar dari satu transaksi. Kekuatan utamanya justru berada pada volume penjualan. Semakin banyak mangkuk yang terjual, semakin besar pula keuntungan yang terkumpul.
Rahasia Untung
Pedagang yang berjualan di lokasi strategis seperti kawasan perkantoran, sekolah, proyek pembangunan, permukiman padat, atau pusat aktivitas masyarakat memiliki peluang mendapatkan pembeli dalam jumlah besar. Dalam simulasi video, pedagang di kawasan Jabodetabek disebut bisa menjual sekitar 250 sampai 350 porsi per hari.
Jika menggunakan gambaran margin sekitar Rp3.500 per porsi dan mampu menjual 350 porsi, keuntungan kotor setelah biaya bahan utama dapat mencapai sekitar Rp1,2 juta per hari. Jika dikalikan 30 hari, nilainya berada di kisaran Rp36 juta.
Baca Juga:Ada Tempat Ngopi Baru di Jonggol Sukamakmur : Warung Kopi De Padee Tawarkan Suasana Alam dengan Harga MurahKejari Karawang Lelang 25 Motor dan 5 Mobil, Harganya Mulai dari Rp9 Ribuan!
Namun angka tersebut perlu dipahami sebagai simulasi, bukan jaminan pendapatan setiap pedagang. Penjualan riil dapat berubah tergantung lokasi, jumlah pelanggan, harga bahan baku, hari operasional, jumlah tenaga kerja, biaya tempat, kerusakan bahan, hingga kondisi pasar.
Meski demikian, simulasi tersebut menunjukkan bagaimana makanan dengan harga Rp18.000 bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar apabila volume penjualannya tinggi dan biaya produksi dapat dikendalikan.
Kenapa Orang Suka Mie Ayam?
Mi ayam mempunyai keunggulan yang sangat penting: produknya sederhana, mengenyangkan, dan dapat diterima oleh berbagai kelompok masyarakat. Pelanggannya tidak terbatas pada satu kelompok usia atau profesi. Pelajar, pekerja kantoran, buruh proyek, pedagang, mahasiswa, hingga keluarga dapat menjadi konsumen.
Dari sisi harga, mi ayam juga berada pada posisi yang menarik. Konsumen mendapatkan makanan yang terasa lebih lengkap daripada sekadar mi instan, tetapi harganya masih bisa berada di bawah banyak pilihan makanan di restoran. Posisi tersebut membuat mi ayam relatif mudah masuk ke dalam anggaran makan harian masyarakat.
Inilah yang membuat bisnis tersebut memiliki pasar yang luas. Pedagang tidak perlu menciptakan kebutuhan baru. Mereka tinggal menawarkan makanan yang memang sudah dicari konsumen setiap hari.
Lokasi Jualan
Dalam bisnis mi ayam, lokasi bisa menentukan hidup matinya sebuah gerobak. Produk yang sama dapat menghasilkan penjualan berbeda ketika ditempatkan di dua lokasi berbeda. Gerobak yang berada di kawasan sepi tentu memiliki peluang lebih kecil dibandingkan gerobak yang berada di sekitar sekolah, perkantoran, proyek, pasar, atau permukiman padat.
