KBEONLINE.ID – Mie ayam menjadi salah satu usaha kuliner yang sangat mudah ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Namun, ada satu fenomena menarik yang cukup lekat dengan masyarakat asal Wonogiri, Jawa Tengah. Banyak perantau dari daerah tersebut memilih berjualan mi ayam di kota-kota besar, termasuk wilayah Jabodetabek. Dari gerobak sederhana, usaha tersebut bahkan mampu menjadi sumber penghasilan utama keluarga dan dalam sejumlah kasus berkembang menjadi usaha dengan omzet yang cukup besar.
Fenomena tersebut bukan semata-mata karena mi ayam merupakan makanan yang disukai banyak orang. Ada jaringan sosial, pengalaman merantau, pola distribusi bahan baku, hingga budaya berusaha yang membuat bisnis ini terus berkembang. Video “Kenapa Pedagang Mi Ayam Wonogiri Cepat Kaya? Ini Realitanya” dari Seni Mengatur Gaji mencoba membedah alasan di balik banyaknya pedagang mi ayam asal Wonogiri sekaligus menghitung seperti apa potensi ekonominya.
Tradisi Merantau
Salah satu alasan mengapa banyak orang Wonogiri dikenal berjualan mi ayam adalah kuatnya tradisi merantau. Ketika meninggalkan kampung halaman, seseorang tidak selalu memiliki modal besar untuk membuka usaha. Mereka membutuhkan pekerjaan yang bisa dimulai secara bertahap, tidak membutuhkan pendidikan formal tinggi, serta mempunyai pasar luas. Mi ayam memenuhi hampir seluruh kebutuhan tersebut.
Baca Juga:Ada Tempat Ngopi Baru di Jonggol Sukamakmur : Warung Kopi De Padee Tawarkan Suasana Alam dengan Harga MurahKejari Karawang Lelang 25 Motor dan 5 Mobil, Harganya Mulai dari Rp9 Ribuan!
Usaha mi ayam juga relatif mudah dipelajari oleh orang yang sudah mendapatkan pengalaman dari pedagang lain. Seseorang bisa bekerja terlebih dahulu sebagai karyawan atau membantu kerabat, kemudian mempelajari cara membuat mi, mengolah ayam, meracik bumbu, menghitung kebutuhan bahan baku, sampai melayani pelanggan. Setelah memiliki pengalaman dan modal, mereka bisa membuka gerobak sendiri.
Pola tersebut kemudian menciptakan semacam rantai regenerasi. Pedagang lama dapat membantu orang dari daerah asalnya untuk masuk ke bisnis yang sama. Tidak mengherankan apabila satu daerah perantauan kemudian dipenuhi pedagang mi ayam yang memiliki hubungan keluarga, pertemanan, atau berasal dari kampung yang berdekatan di Wonogiri.
Jaringan Luas
Hal menarik dari fenomena ini adalah adanya modal sosial yang tidak terlihat dari sebuah gerobak mi ayam. Pedagang baru biasanya tidak benar-benar memulai bisnis dari nol. Mereka bisa mendapatkan informasi mengenai lokasi berjualan, pemasok bahan baku, tempat tinggal, sampai gambaran mengenai harga dan jumlah penjualan dari jaringan yang sudah lebih dahulu berada di kota tujuan.
