Sickness of Busyness: Mengapa Sibuk Kini Menjadi Simbol Status dan Cara Lari dari Diri Sendiri?

Sickness of Busyness
Kesibukan yang tak henti di era modern sering kali bukan sinyal pencapaian, melainkan tempat bersembunyi dari keheningan. Memahami Sickness of Busyness membantu kita merebut kembali arti kedamaian hidup.
0 Komentar

KBEonline.id – “Lagi sibuk banget nih,” atau “Jadwal penuh banget minggu ini, hampir gak ada waktu napas.”

Pernahkah Anda mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh teman, rekan kerja, atau bahkan keluar dari mulut Anda sendiri dengan nada yang terselip rasa bangga? Di era modern, jawaban atas pertanyaan sederhana “Apa kabar?” tidak lagi berfokus pada kondisi emosional atau kebahagiaan, melainkan pada seberapa padat jadwal kegiatan yang sedang kita jalani.

Kesibukan telah bergeser fungsi. Ia tidak lagi dipandang sebagai akibat sampingan dari pekerjaan, melainkan disembah sebagai indikator utama dari pentingnya nilai seorang individu. Di dalam sosiologi modern dan psikologi organisasi, obsesi berlebihan terhadap kesibukan ini dikenal dengan istilah Sickness of Busyness (Penyakit Kesibukan) atau Busyness Epidemic.

Baca Juga:Doomscrolling & Doomspending: Mengapa Makin Stres Lihat Berita Buruk, Kita Malah Makin Rajin Belanja Online?Text-Anxiety & Telephonophobia: Mengapa Generasi Sekarang Sangat Benci dan Takut Menerima Panggilan Telepon?

Kesibukan sebagai Status Symbol Baru

Dahulu, simbol status sosial seseorang diukur dari waktu luang (leisure time) yang mereka miliki—kemampuan untuk bersantai, berlibur, dan tidak perlu bekerja membanting tulang. Namun, lanskap ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy) telah membalikkan logika tersebut 180 derajat.

Dalam penelitian sosiologi perilaku konsumen dari Harvard Business Review, ditemukan bahwa di masyarakat modern, memperlihatkan bahwa diri kita “sangat sibuk dan tidak punya waktu” menjadi sinyal implisit kepada dunia bahwa:

  • Keahlian kita sangat dibutuhkan dan dicari banyak orang.
  • Kita adalah individu yang penting, produktif, dan memiliki ambisi tinggi.
  • Kita memiliki nilai ekonomis yang mahal di pasar kerja.

Tanpa disadari, kita terjebak dalam kultur hustle culture di mana rasa lelah dan jadwal yang membendung dijadikan semacam “medali kehormatan” (badge of honor). Sebaliknya, memiliki waktu luang atau tidak melakukan apa-apa sering kali memicu rasa bersalah (productivity guilt) dan ketakutan dianggap malas atau tidak berguna.

Kesibukan sebagai “Obat Bius” Psikologis (Existential Avoidance)

Di luar dorongan status sosial, ada alasan psikologis yang jauh lebih gelap di balik obsesi kita terhadap kesibukan: kesibukan adalah tempat persembunyian paling sempurna dari diri kita sendiri.

Seorang filsuf kenamaan, Blaise Pascal, pernah menulis kalimat reflektif:

0 Komentar