KBEONLINE.ID, BEKASI – Misteri bungkusan mirip pocong-pocongan menghantui warga Kampung Kenyam, Desa Karangpatri, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Benda dibalut kain putih dan diikat karet merah itu ditemukan di depan rumah salah seorang tokoh masyarakat setempat Abdul Walim, Senin (24/8) pagi. Saat dibuka, di dalamnya terdapat tanah dan bunga dengan aroma menyengat yang disebut menyerupai bau bangkai.
Benda tersebut pertama kali ditemukan istri Abdul Walim saat menyapu halaman rumah setelah salat Subuh. Bungkusan itu terbuat dari kain berwarna putih dan diikat menggunakan karet berwarna merah.
Selang beberapa waktu kemudian, Abdul Walim kemudian memeriksa bungkusan tersebut. Saat dibuka menggunakan pisau cutter, di dalamnya ditemukan tanah dan bunga dengan beragam jenis serta warna.
Baca Juga:Jadwal Film Bioskop Trans TV Malam Ini 25 Agustus 2026 Lengkap Sinopsis, Ada The Ambush dan MosulKeren, Tim PKM UNSIKA Olah Eceng Gondok Jadi Filter Penghasil Air Bersih bagi UMKM di Pesisir Karawang
Menurut Abdul Walim, saat bungkusan dibuka tercium bau menyengat yang menyerupai bau bangkai. Bau tersebut membuat kepalanya terasa pusing dan pening.
“Waktu saya melakukan pembukaan pocong-pocongan tersebut, kepala saya pusing, pening, karena baunya sangat menyengat. Bau minyak misik bukan, bau minyak mawar bukan, pokoknya baunya bau enggak enak, kayak bangkai,” kata Abdul Walim kepada Cikarang Ekspres, Selasa 25 Agustus 2026.
Benda tersebut kemudian disimpan di dalam plastik dan ditutup menggunakan tangkai pohon bidara. Abdul Walim mengatakan berencana membakar benda tersebut pada Senin sore.
Ia menyebut, penemuan bungkusan serupa bukan kali pertama terjadi. Sekitar satu bulan sebelumnya, dirinya juga menemukan benda yang disebutnya sebagai pocong-pocongan. Saat itu, benda tersebut langsung dibungkus plastik dan dibuang ke sungai.
Selain itu, Abdul Walim mengaku beberapa kali menemukan bungbung hideung (kumbang tanduk) berukuran sekitar sebesar ibu jari kaki pada malam hari. Menurutnya, serangga tersebut ditemukan dua hingga tiga ekor dan biasanya muncul setelah pukul 23.00 WIB.
Rangkaian kejadian tersebut, kata Abdul Walim, terjadi di tengah dinamika Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Karangpatri yang tengah berlangsung. Abdul Walim diketahui merupakan tokoh masyarakat sekaligus Ketua Tim Pemenangan salah satu calon kepala desa di wilayah tersebut.
Meski demikian, Abdul Walim tidak menyimpulkan adanya kaitan antara penemuan benda menyeruapi pocong tersebut dengan kontestasi Pilkades. Ia menyerahkan persoalan tersebut kepada Tuhan dan mengaku tidak merasa memiliki persoalan dengan pihak lain.
