Penerapan E-Modul Sabilulungan melalui model pembelajaran berbasis projek berdekatan pembelajaran mendalam membuat siswa tidak hanya memahami teori kebersihan dan pelestarian lingkungan.
“Tetapi juga terlibat aktif dalam praktek nyata seperti penghijauan daur ulang dan pembuatan taman mini dari barang bekas serta menarik partisipasi orang tua dan masyarakat,” ucapnya.
E-Modul ini juga sangat berdampak, terukur keterlibatan kognitif naik dari 50 persen menjadi 88 persen. Afektif 45 persen menjadi 85 persen dan prilaku 55 persen menjadi 90 persen.
Baca Juga:Pekan Literasi Sains Karawang 2026: Guru Fisika dan IPA Pertajam Kompetensi Pembelajaran DigitalSiswa SMPS Alam Karawang Raih Medali Perunggu di Hong Kong International Math Olympiad 2026
Guru juga merasakan kemudahan menyiapkan materi, berkurangnya ketergantungan pada bahan cetak, evesiensi pada waktu persiapan mengajar rata-rata 2 jam/Minggu serta penghematan biaya hingga 60 persen di banding dengan LKS Cetak.
” Diseminasi inovasi ini telah menjangkau 14 kecamatan di kabupaten Bekasi dalam pertemuan darling. 100 persen peserta mengatakan berminat mereplikasi e Modul ini di sekolahnya masing-masing yang menciptakan peluang bagi lebih banyak siswa dan guru merasakan manfaat yang sama,” pungkasnya.
Inovasi berjudul Pengembangan E-Modul Projek Berbasis Kearifan Lokal Sabilulungan ini juga mendapat Piagam penghargaan dari Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kurang, sebagai juara 2 dalam lomba anugerah ASN Inovatif kategori Jabatan Fungsional dan Jabatan Pelaksana Anugerah ASN Inovatif Tingkat Kabupaten Bekasi Tahun 2025. (mil)
