CIKARANG SELATAN, KBEONLINE.ID – Kepala Sekolah Dasar Negara (SDN) Pasirsari 03, Cikarang Selatan, menciptakan Inovasi E- Modul Projek Berbasis Kearifan Lokal Sabilulungan untuk membangun karakter siswa peduli lingkungan.
Kepala SDN Pasirsari 03, Hanifah mengungkapkan, Inovasi E-Modul ini dirancang agar para siswa tidak hanya belajar teori akan tetapi bisa praktik langsung dalam melestarikan alam sejak dini.
Sebagai Kepala Sekolah di SDN Pasirsari 03, ia merasa terpanggil untuk melakukan perubahan dengan menghadirkan inovasi pembelajaran yang lebih relevan, kontekstual dan berbasis budaya lokal.
Baca Juga:Pekan Literasi Sains Karawang 2026: Guru Fisika dan IPA Pertajam Kompetensi Pembelajaran DigitalSiswa SMPS Alam Karawang Raih Medali Perunggu di Hong Kong International Math Olympiad 2026
“Selama kurang lebih 2 tahun bertugas di SDN Pasirsari 03, saya melihat rendahnya kesadaran lingkungan siswa karena pembelajaran masih dominan teori tanpa praktik. Dampaknya siswa memahami pentingnya menjaga lingkungan hanya ditingkat komunitif namun belum berprilaku,” katanya.
Misalnya, masih banyak siswa membuang sampah sembarangan. Kondisi ini diperparah lingkungan sekitar, sekolah berada di sekitar padat penduduk, dan terletak di tepi jalan raya yang kerap menjadi tempat berhenti truk kontainer. Sehingga nilai lokal seperti sabilulungan seperti gotong royong, kerjasama dan tanggung jawab sosial juga makin terpinggirkan dalam pembelajaran formal.
” Untuk mengatasi masalah tersebut saya merancang inovasi berupa E Modul. Projek berbasis kearifan lokal sabilulungan dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Inovasi ini mengajak siswa terlibat turun langsung dalam kegiatan nyata seperti penghijauan dan daur ulang sampah,” tuturnya.
Namun begitu, ia mengaku bahwa dalam praktiknya terdapat beberapa tantangan, diantaranya tantangan utama dari sisi siswa adalah kesenjangan antara teori dan praktik. Banyak yang memandang pembelajaran lingkungan sebatas buku teks atau ceramah tanpa melihat relevansi dan kondisi sekitar.
” Mereka juga belum terbiasa dengan Projek Based Learning yang menutut keterlibatan langsung sehingga nilai sabilulungan dipahami tetapi sulit di aplikasikan dalam keseharian,” ucapnya.
Dari sisi sekolah terdapat tantangan lainnya, yang pertama tantangan budaya dimana guru terbiasa menerapkan metode ceramah dan kurang terbuka dengan pendekatan terbaru seperti penerapan projek beslerning dan penggunaan teknologi digital.
Kedua, tantangan teknologi dan infrastruktur juga menjadi hambatan mengingat keterbatasan fasilitas digital di sekolah. Selain itu, meksipun banyak siswa dan guru memiliki akses ke perangkat seperti ke smart phone tidak semua memiliki akses internet yang stabil.
