Pemanfaatan AI Harus Tetap Berpijak pada Etika, Hukum, dan Kontrol Manusia

Dr. Oman Komarudin.
Dekan Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Dr. Oman Komarudin. (Karawang Bekasi Ekspres)
0 Komentar

“Prinsipnya, yang dihukum adalah perbuatan jahatnya, bukan teknologi maupun penggunaan teknologinya. Hukuman harus disesuaikan dengan tingkat kesalahan dan dampaknya, mungkin bisa jadi pada akhirnya hukum pidana. Menurut saya, saat ini AI masih lebih tepat dianggap sebagai alat atau media, bukan subjek hukum. Pada saat AI digunakan, tanggung jawab hukumnya tetap pada manusia atau pihak yang terlibat dalam aktivitas tersebut,” lanjutnya.

Oman menambahkan bahwa pendekatan berbasis risiko menjadi formulasi ideal saat ini.

“Sepertinya di kita paling mudah menggunakan pendekatan hukum berdasarkan risiko dan dampak. Untuk menghindari bias dan beda pendapat, risiko dan dampak lebih mudah untuk diidentifikasi dan diimplementasikan. Tapi untuk jenis, bobot hukuman dan lainnya saya belum faham,” ungkapnya.

Baca Juga:Harper Cikarang Sajikan Pilihan Hidangan Melalui Layanan Online Food Delivery GoFood dan GrabFoodSharp Indonesia Salurkan Paket Logistik untuk Korban Gempa NTT

Selain isu hukum, kecerdasan buatan juga membawa dampak signifikan pada dunia pendidikan tinggi dan industri teknologi. Oman menyentuh fenomena vibe coder sebuah istilah di kalangan programmer untuk pemula yang merasa sudah mahir melakukan pengodean padahal 99 persen prosesnya dikerjakan oleh kecerdasan buatan.

Guna menyikapi fenomena ini, Oman menekankan bahwa AI tidak boleh mematikan proses nalar mendasar para mahasiswa.

“AI jangan dilarang, tetapi jangan juga dijadikan pengganti proses berpikir mahasiswa. Mahasiswa tetap harus membaca, memahami, dan mengerjakan dasar secara mandiri, lalu AI digunakan sebagai alat bantu untuk berdiskusi, mengkritisi, atau menyempurnakan hasilnya. Bahkan jika perlu, untuk mahasiswa yang sedang belajar, pencarian kesalahan kode program juga tidak dilakukan oleh AI, ini salah satu upaya kita untuk tetap berkembang dan berpikir kritis,” tutur Oman.

Sebagai penutup, Dekan Fasilkom Unsika ini mengajak masyarakat untuk menyikapi keberadaan kecerdasan buatan secara bijak tanpa kehilangan identitas kemanusiaannya.

“AI saat ini bukan untuk dihindari ataupun dilarang. AI adalah hasil pemikiran manusia yang luar biasa bermanfaat, dengan mengadopsi pola pikir manusia yang kompleks menjadi urutan algoritma yang ‘hampir’ presisi. Mari gunakan kelebihan AI, yaitu ketepatan dan kecepatan, untuk mempermudah kehidupan kita, tapi tetaplah hidup, berpikir, dan bertanggung jawab, karena itu kita manusia,” pungkas Dr. Oman.(Aufa)

0 Komentar