Isi Makin Sedikit! Ini 10 Fakta Shrinkflation yang Diam-Diam Bikin Belanja Makin Mahal

Ilustrasi produk kebutuhan sehari-hari dengan ukuran kemasan yang lebih kecil.
Ilustrasi produk kebutuhan sehari-hari dengan ukuran kemasan yang lebih kecil meski harga jualnya tetap. Fenomena ini dikenal sebagai shrinkflation.
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Pernah merasa ukuran camilan yang dibeli sekarang lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun lalu, padahal harga di rak toko tidak banyak berubah?

Atau mungkin isi produk kebutuhan sehari-hari terasa lebih cepat habis meski kemasannya sekilas terlihat sama?

Fenomena tersebut memiliki istilah khusus, yakni shrinkflation.

Secara sederhana, shrinkflation merupakan kondisi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, volume atau jumlah isi suatu produk, sementara harga jualnya tetap atau mengalami perubahan yang relatif kecil.

Baca Juga:Awas Produk Abal! Ini 13 Panduan Memilih Skincare Lokal Murah Berizin BPOM untuk Bantu Pulihkan Skin Barrier16 Trik Maksimalkan Reward dan Voucher Gratis Ongkir TikTok Shop agar Belanja Bulanan Lebih Aman

Strategi ini dapat membuat kenaikan harga tidak terlalu terlihat oleh konsumen karena harga yang tercantum pada kemasan tidak langsung melonjak.

Lantas, mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Berikut 10 fakta shrinkflation yang diam diam bikin belanja makin mahal dikutip dari laman Telegraph Selasa, (2/9/2026).

1. Apa Itu Shrinkflation?

Shrinkflation merupakan gabungan dari kata shrink yang berarti menyusut dan inflation atau inflasi.

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika jumlah produk dikurangi tanpa penurunan harga yang sebanding.

Sebagai contoh sederhana, sebuah produk makanan sebelumnya memiliki berat 100 gram dengan harga Rp10.000.

Ketika ukuran produk berubah menjadi 90 gram tetapi harganya tetap Rp10.000, konsumen sebenarnya membayar lebih mahal jika dihitung berdasarkan harga per gram.

Artinya, kenaikan harga tidak terlihat dari nominal yang dibayarkan, tetapi muncul dalam bentuk berkurangnya jumlah produk.

2. Mengapa Produsen Mengurangi Isi Produk?

Salah satu alasan utama adalah meningkatnya biaya produksi.

Baca Juga:14 Trik Maksimalkan Poin Reward dan Voucher Gratis Ongkir Shopee agar Belanja Bulanan Makin Hemat, Bisa DicobaUsia 30 Bukan Akhir Karier! Ini 14 Tips Career Switch agar Bisa Pindah Jalur Tanpa Mulai dari Nol

Harga bahan baku, energi, transportasi, tenaga kerja hingga biaya distribusi dapat mengalami kenaikan.

Ketika biaya tersebut meningkat, produsen memiliki beberapa pilihan.

Harga jual dapat dinaikkan, biaya produksi dapat ditekan, atau ukuran produk dikurangi.

Shrinkflation menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menjaga harga nominal tetap terlihat kompetitif di mata konsumen.

3. Harga Tetap Bukan Berarti Nilainya Sama

Ini yang sering tidak disadari.

Konsumen biasanya membandingkan harga berdasarkan nominal.

Misalnya, produk A tetap dijual Rp10.000. Karena harganya tidak berubah, konsumen mungkin menganggap produk tersebut masih murah.

Padahal jika beratnya turun dari 100 gram menjadi 80 gram, harga per gram mengalami kenaikan.

0 Komentar