Yayasan tempatnya bernaung memang bukan sekadar tempat singgah, melainkan rumah bagi anak-anak yatim, piatu, dhuafa, hingga anak-anak terlantar di bawah naungan LKSA. Titi menceritakan bahwa setidaknya ada 15 anak yang kini menetap permanen dan tidak memiliki tempat pulang, bahkan saat momen Idulfitri tiba. Bagi anak-anak ini, yayasan dan orang-orang seperti Titi adalah satu-satunya keluarga yang mereka miliki.
Ujian berat pun pernah menghampiri rumah penuh harapan ini pada tahun 2022, saat musibah kebakaran hebat melanda pemukiman di sekitar yayasan. Si jago merah sempat menjalar dan memberikan dampak kerusakan pada bangunan yayasan. Beruntung, saat itu para santri sedang berada di kampung halaman untuk libur lebaran, sehingga tidak ada korban jiwa yang jatuh dari kalangan anak asuh.
Pengalaman pahit dari kebakaran dan manisnya pencapaian pendidikan telah mendewasakan Titi dalam mengelola administrasi yayasan. Pernah menjabat sebagai Bendahara dan kini menjadi Sekretaris, ia memahami betul setiap inci kebutuhan operasional untuk memastikan anak-anak asuhnya tetap bisa makan dan bersekolah. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang harus putus sekolah hanya karena masalah biaya.
Baca Juga:Karawang Tempati Peringkat Ketiga Kasus HIV di Jawa Barat! Paling Banyak Didominasi Kelompok RemajaPembangunan Asrama Tiga Lantai Nahdlatul Islahiyah: Harapan Baru bagi Puluhan Anak di Adiarsa Timur
Kisah Titi Dewi Jayanti adalah pengingat bahwa kebaikan yang ditanamkan akan berbuah manis di masa depan. Dari seorang santri yang hampir putus sekolah, kini ia bertransformasi menjadi penggerak pendidikan bagi generasi berikutnya. Dedikasinya menunjukkan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan dan menghadirkan harapan baru di tengah keterbatasan.(aufa)
