Begini Bahayanya Perlintasan Liar Kereta Ampera di Bekasi Timur

perlintasan liar
Perlintasan liar kereta di Jalan Ampera Bekasi Timur.
0 Komentar

Saking ramainya yang melintas, perlintasan pun difasilitasi aspal oleh pemerintah setempat. Di sisi lain, perlintasan ini pun menjadi ladang usaha bagi warga sekitar.

Awang mengaku sudah sejak tahun 90 akhir hidup di perlintasan tersebut. Kala itu, dirinya baru berusia sekitar 12 tahun namun kerap membantu ayahnya menjaga perlintasan.

“Ini sama semuanya warga di sini, banyaknya dari dulu bapaknya, sekarang anaknya,” kata dia.

Baca Juga:DPKPP Awasi Hewan Kurban di Karawang, Waspada Antraks, Penyakit Mulut dan Kuku dan Lumpy Skin Disease6 Tempat Hiburan Malam di Karawang Disidak, Kaze Cafe, No Name, dan D’Sultan Reborn Belum Berizin Minol

Menurut Awang, ada sekitar 20-30 orang pemuda yang bergantian menjaga perlintasan tersebut sepanjang hari. Mereka lantas dibagi beberapa kelompok yang berisi sekitar 3-4 orang. Setiap kelompok menjaga sekitar 2-3 jam.

Meski mengaku tidak mematok tarif bagi pengendara yang melintas, namun uang kencleng yang diterima dinilainya cukup untuk menghidupi dapur.

Dalam dua sampai tiga jam berjaga, setiap kelompok bisa mendapatkan penghasilan Rp 90.000 bahkan lebih.

“Dibagi yang kerja, dibagi dua, bagi tiga, sesuai yang jaga. Itu dari hasil yang lewat saja, seikhlasnya,” kata dia.

Meski mendapatkan rezeki dari perlintasan, kata dia, peran para penjaga liar ini tidak bisa dikesampingkan.

Tidak jarang mereka menghentikan para pengendara yang membandel, memaksa menerobos perlintasan padahal kereta hendak melintas.

“Itu padahal sudah ditutup, kan ada portal juga. Bandel saja, sudah tahu kereta mau lewat. Nah kondisi kayak gini kalau enggak ada yang jaga bagaimana,” ucap dia.

Baca Juga:Penipuan Kerja ke Luar Karawang Makin Marak, Kadisnakertrans Ingatkan Prosedur Antar Kerja Antar DaerahTertipu Janji Gaji Tinggi di OKI, Bupati Aep Sambut Kepulangan Delapan Warga Karawang 

Sekitar 2020 lalu, kata Awang, ada truk tronton yang mogok tepat di atas rel saat kereta hendak melintas. Coba didorong oleh puluhan warga sekitar namun tidak berhasil.

Lalu sejumlah warga berinisiatif berlari ratusan meter ke arah datangnya kereta sambil mengibarkan kantong plastik berwarna merah.

“Adanya itu (kantong plastik). Itu kami lari sambil kibar-kibarin itu, buat isyarat ke masinis. Karena kan kereta enggak bisa langsung berhenti, harus ada jarak dulu minimal ratusan meter. Itu kami lari, akhirnya bisa itu direm sama masinis. Kalau enggak bisa lebih parah dari sekarang itu,” ucap dia.

Pada insiden taksi hijau yang tertemper KRL pun, kata Awang, telah coba dihentikan warga. Puluhan warga coba mendorong taksi menjauhi rel tapi tidak berhasil karena remnya mengunci.

0 Komentar