‎Andaikan Ibu Menguasai Ilmu PAUD, Jalan Memutus Rantai Pola Asuh Instingtif

Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Heny Chusnarin Haryanti, M.M., M.Pd
Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Heny Chusnarin Haryanti, M.M., M.Pd
0 Komentar

‎ Jika Ibu Menguasai ilmu PAUD, Apa yang Berubah?

‎Menguasai ilmu PAUD bukan berarti Ibu harus bisa mengajar calistung. Yang berubah adalah cara pandang. Ibu yang memahami PAUD akan melihat anak bukan sebagai miniature dewasa, tetapi sebagai individu dengan cara berpikir dan merasa yang berbeda. Pertama, bahasan yang digunakan menjadi lebih positif. “Ayo jalan pelan-pelan” menggantikan “jangan lari!”. Anak merasa dihargai, bukan disalahkan. Kedua, proses dihargai lebih dari hasil. Coretan berantakan tetap dipuji karena anak berani mencoba. Di sinilah rasa percaya diri di bangun. Ketiga, ibu memberi pilihan kecil. “Mau makan pakai sendok atau garpu? Pilihan sederhana ini melatih anak mengambil keputusan dan merasa memiliki kontrol atas dirinya. Perubahan kecil ini, jika dilakukan konsisten oleh jutaan ibu Indonesia, akan membentuk budaya pengasuhan yang lebih manusiawi dan berbasis pemahaman.‎

‎ Peran Negara dalam Memperkuat Literasi Paud Ibu

‎Tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan pada ibu sendiri. Negara perlu hadir dengan kebijakan yang sistematis. Program “Sekolah Orang Tua” yang pernah diluncurkan baik oleh pemerintah maupun non pemerintah sebaiknya terus dilakukan. Pemerintah dapat menjadikan sekolah orang tua sebagai program nasional terstruktur, seperti posyandu atau PKK. Dengan pola yang terorganisasi, edukasi pengasuhan tidak lagi bersifat insidental atau hanya dinikmati masyarakat perkotaan, tetapi benar-benar menjangkau keluarga hingga tingkat desa. Jika dilakukan secara konsisten, sekolah orang tua bukan hanya akan meningkatkan kualitas pengasuhan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang negara dalam membangun generasi yang sehat secara emosional, sosial, dan intelektual.‎ ‎Guru PAUD sesungguhnya memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial, bukan sekadar pengajar di ruang kelas. Melalui forum Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), guru dapat mengambil peran lebih luas dengan turun langsung ke lingkungan RW, desa, posyandu, maupun komunitas keluarga untuk memberikan edukasi tentang pola asuh, tumbuh kembang anak, kesehatan mental keluarga, hingga pentingnya bermain pada anak usia dini. Selama ini, pengetahuan tentang pengasuhan berkualitas sering berhenti di sekolah dan seminar-seminar terbatas. Padahal persoalan utama pendidikan anak justru banyak bermula dari rumah: tekanan calistung, penggunaan gawai berlebihan, komunikasi keras, hingga pola pengasuhan yang diwariskan secara turun-temurun tanpa refleksi kritis. Karena itu, kehadiran guru PAUD di tengah masyarakat dapat menjadi jembatan penting antara ilmu pendidikan modern dan praktik pengasuhan sehari-hari keluarga Indonesia.‎‎Pada akhirnya, memutus rantai pola asuh instingtif harus dimulai dari satu kesadaran sederhana: mendidik anak usia dini adalah ilmu, bukan sekadar naluri atau pengalaman masa lalu. Banyak orang tua membesarkan anak hanya berdasarkan kebiasaan yang mereka terima dahulu, tanpa benar-benar memahami kebutuhan perkembangan anak. Akibatnya, tidak sedikit anak tumbuh dalam tekanan, minim stimulasi emosional, atau dipaksa matang sebelum waktunya. Di sinilah negara, sekolah, dan masyarakat perlu hadir bersama untuk memastikan ilmu pengasuhan sampai ke ruang-ruang paling intim dalam kehidupan keluarga. Sebab kenyataannya, sebagian besar waktu anak tidak dihabiskan di sekolah, melainkan bersama ibu dan keluarga di rumah. Jika pengasuhan di rumah tidak berubah, maka sebaik apapun kurikulum pendidikan, hasilnya akan selalu terbatas. (*)

0 Komentar