‎Andaikan Ibu Menguasai Ilmu PAUD, Jalan Memutus Rantai Pola Asuh Instingtif

Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Heny Chusnarin Haryanti, M.M., M.Pd
Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Heny Chusnarin Haryanti, M.M., M.Pd
0 Komentar

SETIAP hari, ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, Ibu yang mengajari anak bicara, makan, berbagi dan mengendalikan emosi. Ironisnya, peran krusial ini sering dijalankan tanpa bekal ilmu yang memadai. Di Indonesia, rata-rata Perempuan menempuh Pendidikan formal 16 tahun, tetapi sangat sedikit yang pernah belajar tentang perkembangan anak usia dini sistematis. Ketika 80% waktu anak usia 0-6 tahun dihabiskan di rumah, minimnya literasi PAUD pada ibu menjadi persoalan yang berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang.

‎‎Tanpa bekal ilmu PAUD, pengasuhan cenderung mengandalkan insting dan pola yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Anak usia 4 tahun dipaksa bisa membaca dan menulis. Anak usia 4 tahun dipaksa bisa membaca dan menulis. Anak aktif dilabeli “nakal”. Kesalahan kecil langsung dibalas bentakan. Padahal, anak usia PAUD belajar optimal melalui bermain dan eksplorasi. Ketika ibu tidak memahami tahap perkembangan ini, yang terjadi adalah pemaksaan standar akademik usia SD pada anak yang secara kognitif belum siap. Hasilnya bukan anak cerdas, melainkan anak yang cepat kehilangan rasa ingin tahu dan merasa tidak cukup baik di mata orang tuanya.

‎‎Meski pemerintah telah mengingatkan pentingnya pembelajaran yang menyenangkan di PAUD, praktik pendidikan anak usia dini yang terjadi masih menekankan membaca, menulis, dan menghitung atau calistung secara langsung. Ini bukan hanya masalah sekolah. Ini cerminan bahwa pemahaman tentang PAUD di Masyarakat, termasuk di kalangan ibu, masih terbatas pada persiapan masuk SD. Kesalahan pola asuh di usia dini tidak langsung terlihat. Dampaknya muncul saat anak masuk SD: cepat Bosan, tidak percaya diri, takut salah, bahkan menolak sekolah. Psikolog menyebut ini burnout usia dini. Anak yang seharusnya penasaran pada dunia sudah merasa lelah sebelum belajar dimulai. Lebih jauh memaksa anak meminta maaf tanpa pemahaman, atau menghukum saat tantrum, menghambat perkembangan sosial- emosi anak. Anak tumbuh tanpa kemampuan mengelola emosi dan berempati. Padahal keterampilan inilah yang menjadi fondasi etika dan kecerdasan sosial di masa depan.

0 Komentar