Pesan untuk Sang Nakhoda: Pemerintah
Pemerintah tidak boleh hanya menjadi pengamat dari atas menara gading birokrasi. Pendidikan bukan sekadar masalah administratif atau perubahan nama kurikulum setiap beberapa tahun. Ada tiga hal krusial yang harus dilakukan:
1. Memanusiakan Guru
Jangan lagi ada cerita guru honorer yang upahnya lebih rendah dari biaya parkir mal. Guru yang cemas akan dapurnya tidak akan pernah bisa mencetak siswa yang bermimpi emas. Jangan berlandaskan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa ketika setiap posisi yang ditempati oleh elit negara diawali oleh duduk dia di sekolah dan dididik oleh seseorang yang mereka katakan pahlawan.
2. Meruntuhkan Tembok Kesenjangan
Indonesia Emas tidak boleh hanya milik Jakarta atau Jawa. Selama anak di Papua atau pelosok Kalimantan masih harus menyeberang sungai demi akses internet atau buku, maka “Emas” tersebut hanya milik segelintir elite. Ketika pendidikan yang dikatakan merata tapi masih kesulitan sehingga beberapa anak rela meninggalkan pendidikannya demi terbakarnya api untuk masakan di dapurnya.
3. Literasi Masa Depan
Baca Juga:Edukasi Emak-emak Karawang, Unicharm Tekan Timbulan Sampah 3REmpat Kebakaran Terjadi Selama Pemadaman Listrik Bergilir, BPBD Karawang Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Fokuskan pendidikan pada Critical Thinking dan Public Speaking. Di era AI, pengetahuan bisa dicari dalam hitungan detik, namun integritas berpikir dan kemampuan berkomunikasi adalah mata uang yang takkan pernah devaluasi. Karena sejatinya AI tercipta dari pola pikir manusia yang dapat berpikir kritis melihat potensi, kesempatan dan keyakinan pada diri bahwa tiap-tiap manusia dapat memberikan perubahan yang signifikan untuk dunia atau mungkin negaranya itu sendiri.
Penutup: Pilihan di Tangan Kita
Tahun 2045 bisa menjadi simfoni kejayaan, atau justru menjadi elegi kegagalan. Jika hari ini kita masih membiarkan ketimpangan kualitas guru dan kurikulum yang kaku, maka kita sebenarnya tidak sedang menjemput emas. Kita hanya sedang merawat cemas yang dibungkus dengan pita warna-warni.
Sudah saatnya pendidikan kita berhenti sekadar “mencetak lulusan” dan mulai “mencetak manusia”. Karena pada akhirnya, emas yang sesungguhnya bukan terletak pada cadangan tambang kita, melainkan pada otak dan karakter anak-anak yang duduk di bangku sekolah hari ini. Tapi tidak hanya dilihat dari nilai nomina tapi bagaimana tiap-tiap manusianya memiliki nilai di mata dunia. (*)
