MENUJU 2045, kita sering kali disuguhi visualisasi gedung pencakar langit, transportasi canggih, dan ekonomi yang melesat ke peringkat lima besar dunia. Namun, sebuah bangsa tidak dibangun dari beton, melainkan dari manusia. Jika kita menilik data sektor pendidikan dan kesejahteraan masyarakat hari ini, narasi “Emas” tersebut terasa seperti sebuah utopia yang dipaksakan. Kita sedang bermimpi membangun istana megah, namun pondasinya yakni kualitas manusia masih keropos dan belum siap menopang beban masa depan.
Dua dekade dari sekarang, Indonesia dijadwalkan berdiri di puncak podium dunia. Narasi “Indonesia Emas 2045” bukan sekadar angka di atas kertas kebijakan, melainkan sebuah janji suci bagi bayi-bayi yang lahir hari ini. Namun, jika kita berani menilik ke dalam ruang-ruang kelas di pelosok negeri hingga hiruk-pikuk kampus di kota besar, sebuah pertanyaan besar menyeruak: Apakah kita sedang menyiapkan tangga menuju emas, atau justru sedang menyemai benih kecemasan yang panjang?
Analogi Perahu dan Arus Digital
Bayangkan pendidikan kita adalah sebuah perahu besar di tengah samudera transformasi digital yang ganas. Pemerintah sibuk mengecat lambung perahu agar terlihat cantik dari kejauhan (melalui berbagai jargon kurikulum), namun seringkali lupa bahwa mesinnya yaitu para guru sedang batuk-batuk karena kurang bahan bakar (kesejahteraan). Sementara itu, para penumpang (siswa) diajarkan cara mendayung manual di era di mana kapal-kapal tetangga sudah menggunakan mesin jet kecerdasan buatan (AI). Kita bangga dengan besarnya perahu kita, tapi kita lupa memastikan perahu ini tidak bocor oleh ketimpangan.
Fakta di Balik Tirai Jargon
Baca Juga:Edukasi Emak-emak Karawang, Unicharm Tekan Timbulan Sampah 3REmpat Kebakaran Terjadi Selama Pemadaman Listrik Bergilir, BPBD Karawang Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Optimisme tanpa data adalah delusi. Skor PISA 2022 menjadi pengingat pahit; ketika literasi dan numerasi kita masih betah di papan bawah, kita sebenarnya sedang membiarkan generasi mendatang “buta” di tengah ledakan informasi.
Data BPS yang menunjukkan tingginya angka pengangguran terdidik adalah bukti nyata adanya mismatch. Kita memproduksi ribuan sarjana setiap tahun, namun industri seringkali hanya menemukan “kertas ijazah” tanpa “kapabilitas nyata”. Ini bukan salah siswanya, melainkan sistem yang masih memuja nilai di atas kertas daripada nilai guna di kehidupan nyata.
