PKBM Solusi Anak Tetap Sekolah, Jawa Barat Miliki 2.350 Lembaga

Siswa PKBM Assolahiyah Karawang saat mengikuti program keterampilan komputer.
Ketua DPW FK-PKBM Provinsi Jawa Barat, Heru Saleh, M.Pd (foto kiri). Siswa PKBM Assolahiyah Karawang saat mengikuti program keterampilan komputer. --KBE--
0 Komentar

‎KARAWANG, KBEONLINE.ID – Momen pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) selalu menarik perhatian setiap tahunnya. Tak sedikit orang tua yang merasa cemas karena khawatir anaknya tidak lolos SPMB sekolah negeri.

‎Kekhawatiran tersebut bisa dipahami. Pasalnya, kuota sekolah negeri baik jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK/SLB, sangat terbatas. Selain itu, biaya sekolah swasta memang sering kali menjadi beban berat, khususnya bagi keluarga dari kalangan ekonomi kurang mampu.

‎Menanggapi hal di atas, Ketua DPW FK-PKBM Provinsi Jawa Barat, Heru Saleh, meminta agar orang tua tidak patah semangat untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya. Calon murid baru yang gagal lolos masuk sekolah negeri masih memiliki kesempatan untuk tetap bersekolah, salah satunya lewat pendidikan nonformal seperti bersekolah di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Baca Juga:PAUD Bekal Penting Sebelum Masuk SD, Jadikan Anak Lebih Siap Sekolah2045: Menjemput Emas atau Merawat Cemas?

‎”Anak-anak yang nantinya bersekolah di PKBM tak perlu minder dan pesimistis terkait masa depan. Karena lulusan PKBM juga memiliki kesempatan yang sama dengan lulusan pendidikan formal, baik dalam hal melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun bekerja,” ujar Heru, kepada KBE, Senin (22/6/2026).

‎Heru menyampaikan, sebagai garda terdepan penanganan anak tidak sekolah (ATS) dan anak putus sekolah di Jawa Barat, PKBM memiliki sejumlah keunggulan salah satunya yaitu menjadikan keterampilan dan pemberdayaan sebagai salah satu pembelajaran wajib dalam rangka meningkatkan potensi siswa sekaligus kearifan lokal di Jawa Barat.

‎”Program keterampilan dan pemberdayaan di PKBM merupakan muatan kokurikuler yang dirancang untuk membekali peserta didik dengan hard skill vokasional dan soft skill. Tujuannya adalah menciptakan lulusan yang mandiri, berkarakter, dan mampu bersaing di dunia kerja maupun berwirausaha,” jelas Heru.

‎Keterampilan yang diberikan, kata Heru, disesuaikan dengan minat siswa serta potensi dan kebutuhan lingkungan sekitar. Sesuai dengan panduan Kementerian Pendidikan, terdapat sembilan program utama keterampilan yang bisa diterapkan. Yaitu, pertanian terpadu: teknik bercocok tanam modern atau hidroponik, pengelolaan perikanan dan kelautan: perikanan tangkap/budidaya, pengelolaan sampah: daur ulang dan manajemen limbah/bank sampah.

0 Komentar