Meski sederhana, cita rasa Bubur Tambun mulai dikenal masyarakat. Dari satu pedagang berkembang menjadi beberapa keluarga, kemudian menyebar menjadi jaringan usaha yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Lahirnya Julukan “Bubur Racing”
Perubahan besar terjadi ketika sepeda motor mulai mudah dimiliki masyarakat melalui sistem kredit pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Motor kemudian menjadi alat utama mengangkut dandang bubur menuju lokasi berjualan. Dengan kendaraan bermotor, jangkauan para pedagang semakin luas. Mereka tidak lagi hanya berjualan di Bekasi, tetapi mulai memasuki Jakarta, Depok, Tangerang, BSD, hingga sebagian wilayah Bogor.
Baca Juga:Liburan Gratis di Majalengka Ada Dusun Cibuluh Tawarkan Pesona Negeri di Atas Awan Lereng Gunung CiremaiGunung Luhur Sukamakmur Cocok untuk Pendaki Pemula dengan Pendakian Singkat dan Pemandangan Maksimal
Setiap hari, sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 WIB, puluhan bahkan ratusan motor keluar hampir bersamaan dari Kampung Buwek menuju berbagai arah. Dandang aluminium berukuran besar diikat kuat di bagian belakang motor, sementara perlengkapan dagangan lainnya dibawa menggunakan keranjang atau boks tambahan.
Karena sering melaju beriringan di jalan raya pada waktu subuh, masyarakat kemudian menjuluki mereka sebagai Bubur Racing. Istilah tersebut bukan karena para pedagang benar-benar balapan, melainkan menggambarkan pemandangan unik puluhan motor yang bergerak hampir bersamaan mengejar waktu agar tiba di lokasi sebelum pelanggan datang untuk sarapan.
Cita Rasa Bubur Tambun Berbeda dengan Bubur Ayam Lainnya
Salah satu alasan Bubur Tambun mampu bertahan hingga puluhan tahun adalah karakter rasanya yang berbeda dari bubur ayam pada umumnya.
Jika kebanyakan bubur ayam identik dengan kuah kuning berbumbu kunyit, Bubur Tambun justru memiliki rasa yang lebih gurih dengan sentuhan asin yang khas. Pengaruh kuliner Tionghoa dan bubur khas Bandung masih terasa kuat dalam racikan bumbunya.
Tekstur buburnya sangat lembut dan halus karena dimasak dalam waktu lama menggunakan api kecil. Bubur disajikan dengan suwiran ayam, cakwe renyah, daun bawang, bawang goreng, kerupuk, serta siraman kecap asin yang menjadi salah satu ciri khasnya.
Namun yang paling membedakan adalah penggunaan tongcai, yaitu sawi putih yang difermentasi menggunakan garam dan bawang putih. Rasanya sedikit asin dengan aroma fermentasi yang khas sehingga mampu memberikan dimensi rasa berbeda dibanding bubur ayam biasa.
