Fakta Lengkap Tentang Bubur Tambun : Kuliner Legendaris dengan Julukan Bubur Racing Kuasai Jabodetabek

Fakta Lengkap Tentang Bubur Tambun : Kuliner Legendaris dengan Julukan Bubur Racing Kuasai Jabodetabek
Fakta Lengkap Tentang Bubur Tambun : Kuliner Legendaris dengan Julukan Bubur Racing Kuasai Jabodetabek
0 Komentar

KBEONLINE.ID TAMBUN – Pernahkah Anda melihat iring-iringan sepeda motor melaju kencang saat dini hari dengan membawa dandang aluminium berukuran besar di bagian belakang motor? Pemandangan tersebut bukanlah rombongan balap liar ataupun konvoi komunitas otomotif, melainkan para pedagang Bubur Tambun yang sedang berangkat mencari rezeki.

Fenomena ini sudah berlangsung selama puluhan tahun dan begitu melekat di wilayah Jabodetabek. Karena berangkat secara berombongan pada waktu subuh dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju lokasi berjualan masing-masing, masyarakat kemudian mengenalnya dengan istilah “Bubur Racing.”

Di balik julukan unik tersebut, tersimpan kisah panjang mengenai kerja keras, tradisi keluarga, hingga lahirnya salah satu ekosistem kuliner paling sukses yang berasal dari Kabupaten Bekasi. Kini, Bubur Tambun bukan hanya menjadi menu sarapan favorit masyarakat Jabodetabek, tetapi juga menjadi identitas kuliner yang menghidupi ribuan keluarga.

Baca Juga:Liburan Gratis di Majalengka Ada Dusun Cibuluh Tawarkan Pesona Negeri di Atas Awan Lereng Gunung CiremaiGunung Luhur Sukamakmur Cocok untuk Pendaki Pemula dengan Pendakian Singkat dan Pemandangan Maksimal

Berawal dari Kampung Buwek yang Kini Dijuluki Kampung Bubur

Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebagian besar pedagang Bubur Tambun ternyata berasal dari satu wilayah yang sama, yaitu Kampung Buwek, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Di kampung inilah tradisi berjualan bubur diwariskan secara turun-temurun. Hampir setiap keluarga memiliki anggota yang berprofesi sebagai pedagang bubur. Ada yang memasak bubur, membuat topping, menyiapkan bumbu, hingga berjualan langsung ke berbagai kota di Jabodetabek.

Karena begitu banyak warganya menggantungkan hidup dari usaha tersebut, Kampung Buwek kemudian lebih dikenal masyarakat sebagai Kampung Bubur. Julukan itu bukan sekadar sebutan, melainkan cerminan bagaimana satu komunitas mampu membangun identitas ekonomi dari satu jenis usaha yang terus bertahan hingga sekarang.

Dimulai Sejak Era 1980-an, Awalnya Berjualan dengan Pikulan

Perjalanan Bubur Tambun dimulai sekitar dekade 1980 hingga 1990-an. Saat itu para perantau asal Tambun mencoba mencari penghidupan di Jakarta dengan menjual bubur ayam secara sederhana.

Berbeda dengan sekarang, para pedagang kala itu masih menggunakan pikulan bambu, gerobak dorong, bahkan sepeda kayuh untuk membawa dagangannya. Area jualannya pun tidak terlalu jauh karena keterbatasan alat transportasi. Mereka hanya berkeliling di sekitar tempat tinggal atau membuka lapak kecil di pinggir jalan.

0 Komentar