KBEONLINE.ID, BEKASI – Hari Sungai Nasional yang diperingati setiap 27 Juli semestinya menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian sungai. Namun di Kabupaten Bekasi, peringatan itu justru diwarnai ironi.
Di tengah kampanye menjaga ekosistem, masih ada warga yang terpaksa mandi dan mencuci di Sungai Cilemahabang yang menghitam serta berbau menyengat diduga akibat tercemar limbah.
Fenomena tersebut terjadi di sepanjang aliran Sungai Cilemahabang yang melintasi sejumlah wilayah, mulai dari Desa Waluya, Karangraharja, dan Karangasih di Kecamatan Cikarang Utara hingga Desa Sukaraya, Kecamatan Karang Bahagia.
Baca Juga:Update Harga Emas Antam Hari ini 27 Juli 2026, Buyback Melejit hingga Rp18.000 Per GramJadwal dan Lokasi Layanan SIM Keliling di Bekasi Hari Ini 27 Juli 2026, Cek Syarat Perpanjangannya
Bekangan, saat musim kemarau, minimnya pasokan air bersih juga turut memaksa sebagian warga yang tinggal di bantaran sungai tersebut tetap memanfaatkan air untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), meski kondisi air sudah jauh dari kata layak.
Ironi ini berbanding terbalik dengan semangat Hari Sungai Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Regulasi tersebut menegaskan pentingnya menjaga fungsi sungai dan kelestarian ekosistemnya dari hulu hingga hilir.
Namun demikian, melihat fakta kondisi Sungai Cilemahabang justru menggambarkan masih besarnya pekerjaan rumah pemerintah setempat dalam menjaga kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Bekasi.
“Mau gimana lagi, kemarau menyebabkan pasokan air bersih minim. Air bersih di sini hanya cukup untuk masak saja saat musim kemarau panjang begini,” ujar Fitria (39), warga setempat saat ditemui Cikarang Ekspres, Senin (27/7).
Fitria mengatakan pencemaran Sungai Cilemahabang sudah berlangsung cukup lama. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari warga sekitar, sungai tersebut diduga telah tercemar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Meski demikian, kebutuhan sehari-hari memaksa dirinya bersama ibu-ibu lainnya tetap mencuci pakaian di tepi sungai yang kini dijuluki warga sebagai “sungai hitam”.
“Jadi mau tidak mau setiap hari kita tetap cuci baju di sungai hitam ini. Dikucek di sini, nanti sampai rumah dibilas lagi,” katanya.
Baca Juga:1 Tahun Lawasan Caraka: Mempertegas Eksistensi Pesisir Utara Karawang Lewat Geliat Pariwisata dan KebudayaanDPP PABPDSI Komit Mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Gibran di Kabupaten BekasiÂ
Pantauan Cikarang Ekspres di lokasi menunjukkan air Sungai Cilemahabang berwarna hitam pekat disertai aroma menyengat yang tercium hingga ke permukiman warga. Sungai yang berhulu di Sungai Cikeas, Kabupaten Bogor, itu terhubung dengan Kanal Cikarang-Bekasi-Laut (CBL), menyatu dengan Sungai Cileungsi, sebelum akhirnya bermuara di wilayah Tarumajaya.
