KBEONLINE.ID, KARAWANG – Mahasiswa dan dosen Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) PEKKA Desa Cadaskertajaya, Kecamatan Telagasari, sukses menerapkan Integrated Farming System (IFS) melalui integrasi budidaya ikan lele dengan pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik.
Kegiatan yang berlangsung di kolam budidaya dan lahan pertanian milik KWT PEKKA pada Minggu (2/8/2026) itu merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Pertanian Unsika yang bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Program tersebut melibatkan mahasiswa Program Studi Agribisnis, dosen pembimbing, serta anggota KWT PEKKA Desa Cadaskertajaya. Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi konsep Integrated Farming System, dilanjutkan penebaran benih ikan lele dan demonstrasi pemanfaatan slurry hasil budidaya sebagai pupuk organik.
Baca Juga:Teknologi Heat Pump Buktikan Potensi Dekarbonisasi Industri, Hemat Biaya hingga Rp744 Juta per TahunPHE ONWJ Pastikan Keandalan Pipa untuk Amankan Produksi Migas
Melalui konsep pertanian terpadu tersebut, budidaya ikan lele tidak hanya menghasilkan komoditas perikanan, tetapi juga menghasilkan slurry yang diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman hortikultura di sekitar kolam.
Tanaman seperti cabai, singkong, dan tomat yang dibudidayakan oleh kelompok tani memanfaatkan pupuk organik tersebut sebagai bagian dari siklus pertanian yang saling mendukung.
Sistem ini diharapkan mampu mengurangi limbah budidaya, meningkatkan efisiensi produksi, serta menciptakan pola pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Fatimah Azzahra, mengatakan penerapan Integrated Farming System menjadi salah satu inovasi pertanian yang memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Melalui penerapan Integrated Farming System, kami berharap masyarakat, dalam hal ini ibu-ibu KWT, dapat memanfaatkan hasil budidaya secara lebih efisien dan berkelanjutan. Integrasi antara sektor perikanan dan pertanian ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat Desa Cadaskertajaya,” ujarnya.
Selain memberikan edukasi mengenai teknik budidaya ikan lele, tim PKM Unsika juga mendampingi anggota KWT dalam memahami proses pengolahan slurry menjadi pupuk organik. Pendampingan tersebut bertujuan agar limbah budidaya tidak terbuang sia-sia, melainkan dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi model pertanian terpadu yang diterapkan secara berkelanjutan di Desa Cadaskertajaya.
