Ketika matang, warna buah berubah menjadi kuning keemasan dan rasanya menjadi lebih manis dengan sentuhan asam yang menyegarkan. Tidak hanya buahnya, daun muda gandaria juga dapat dimanfaatkan sebagai lalapan.
Dahulu, pohon gandaria lebih mudah ditemukan di lingkungan masyarakat. Kini, keberadaannya mulai jarang terlihat sehingga generasi muda semakin sedikit yang mengenal buah lokal tersebut.
10. Lobi-lobi, Buah Merah yang Lebih Enak Diolah
Lobi-lobi memiliki bentuk kecil menyerupai buah ceri. Saat matang, warnanya berubah menjadi merah terang hingga keunguan. Namun, jangan berharap rasanya langsung manis seperti ceri.
Baca Juga:Bacok Korban dan Gasak Rp30 Juta, 6 Perampok Sadis di Cibitung Akhirnya DitangkapTolong Pak Bupati Lembur Kuring Darurat Debu! Warga Cikarang Pusat Desak Batching Plant Ditertibkan
Lobi-lobi justru terkenal dengan rasa masamnya yang kuat. Karena itu, buah ini lebih sering diolah menjadi rujak, asinan, manisan, sirup, atau selai dibandingkan dimakan langsung.
Dahulu, pengolahan sederhana seperti rujak dan manisan membuat buah lokal seperti lobi-lobi memiliki tempat tersendiri di masyarakat. Kini, keberadaannya semakin jarang sehingga pengalaman mencicipinya menjadi kenangan bagi sebagian generasi.
Ketika Buah Lokal Berubah Menjadi Kenangan
Sepuluh buah tersebut bukan hanya soal rasa. Ada cerita masa kecil yang ikut melekat di dalamnya. Ada yang dahulu dipetik langsung dari pohon, dibeli di pasar tradisional, dijadikan rujak, atau sekadar dimakan bersama teman setelah pulang sekolah.
Rukem, mundu, bisbul, menteng, jamblang, kecapi, gowok, kepel, gandaria, dan lobi-lobi menjadi gambaran bagaimana kekayaan buah lokal Indonesia pernah begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Namun, perubahan lingkungan, alih fungsi lahan, minimnya budidaya, serta perubahan selera membuat sebagian buah tersebut semakin sulit ditemukan.
Kini, bagi generasi yang pernah merasakan buah-buah tersebut, namanya mungkin mampu membuka kembali kenangan tentang masa ketika jajanan tidak selalu harus dibeli di minimarket. Cukup berjalan ke kebun, memanjat pohon, atau mampir ke pasar tradisional, sudah bisa menemukan rasa yang hari ini justru semakin langka.
Buah-buahan tersebut mungkin tidak sepenuhnya punah, tetapi jika tidak kembali dikenalkan dan dibudidayakan, bukan tidak mungkin keberadaannya hanya tersisa dalam cerita. Sebab, ketika pohonnya hilang dan tidak ada lagi yang mengenalnya, yang ikut hilang bukan hanya buahnya, tetapi juga bagian dari nostalgia kuliner Indonesia.
