Tidak ada dasar yang cukup untuk menyebut seluruh pekerja di kawasan tersebut sedang mengalami fenomena yang sama.
8. Perusahaan juga bisa ikut memicu masalah
Persoalan quiet quitting tidak selalu bisa dibebankan kepada pekerja.
Ketika target terus bertambah, tetapi penghargaan, komunikasi, kesempatan berkembang dan dukungan dari atasan tidak seimbang, keterikatan karyawan terhadap perusahaan dapat menurun.
Gallup bahkan menekankan pentingnya peran manajer dalam membangun keterlibatan pekerja. Data terbaru Gallup menunjukkan keterlibatan karyawan global turun menjadi 20 persen pada 2025, sementara kelompok pekerja yang masuk kategori not engaged mencapai 64 persen.
Baca Juga:Rekomendasi 12 Mobil Hybrid Kabin Luas untuk Perjalanan Akhir Pekan, No 11 Irit BBM tapi Tetap Nyaman12 Gerakan Olahraga yang Dapat Dilakukan Sebelum Aktivitas Jumat Pagi, Cuma 10 Menit Biar Badan Nggak Kaku!
Angka tersebut merupakan data global, bukan khusus Jakarta atau SCBD. Namun, data itu menunjukkan bahwa persoalan keterikatan pekerja memang bukan sekadar tren media sosial.
9. Dampaknya bisa terasa ke produktivitas
Sekilas, bekerja sesuai jobdesk mungkin tidak terlihat sebagai persoalan.
Masalah mulai muncul ketika seseorang tidak lagi memiliki inisiatif, enggan berkolaborasi atau berhenti memberikan gagasan di luar tugas rutinnya.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas dan inovasi perusahaan.
Gallup mengaitkan rendahnya keterlibatan pekerja dengan berbagai hasil bisnis, termasuk produktivitas, profitabilitas, loyalitas pelanggan dan kesejahteraan pekerja.
10. Beban pekerjaan bisa berpindah ke karyawan lain
Ini menjadi salah satu risiko yang sering luput dari pembahasan.
Jika seorang pekerja hanya mengerjakan tugas minimum sementara anggota tim lainnya tetap mengambil pekerjaan tambahan, beban dapat berpindah kepada pekerja yang lebih aktif.
Dalam kondisi tertentu, hal itu justru bisa memunculkan persoalan baru.
Karyawan yang sebelumnya sangat berdedikasi dapat merasa tidak adil apabila kontribusi ekstra mereka tidak dihargai sementara rekan kerja dengan kontribusi minimum mendapatkan perlakuan yang sama.
11. Quiet quitting juga menjadi alarm bagi perusahaan
Daripada langsung menganggap pekerja yang melakukan quiet quitting sebagai masalah, perusahaan sebenarnya dapat melihatnya sebagai sinyal.
Apakah target pekerjaan sudah realistis?
Apakah pembagian tugas adil?
Apakah karyawan mengetahui peluang pengembangan kariernya?
Apakah atasan memberikan penghargaan yang sesuai?
Baca Juga:14 Rekomendasi Tempat Makan Sambal Dadak di Jatimulya Tambun Selatan dan Bekasi Timur, No 13 Ajib!Jangan Asal Download! Ini 13 Aplikasi Penghasil Uang 2026 yang Punya Cara Cuan Jelas dan Terbukti Membayar
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena Gallup sebelumnya menemukan bahwa persoalan quiet quitting memiliki hubungan dengan pengalaman pekerja terhadap manajemen, komunikasi, pengembangan karier dan rasa dihargai.
