Viral di LinkedIn! Quiet Quitting Kembali Ramai di Kalangan Pekerja SCBD, Benarkah Budaya Kerja Mulai Berubah?

Fenomena quiet quitting kembali menjadi perbincangan di kalangan pekerja profesional.
Fenomena quiet quitting kembali menjadi perbincangan di kalangan pekerja profesional. Tren ini menggambarkan perubahan cara sebagian pekerja memandang batas antara pekerjaan, waktu pribadi, dan tuntutan perusahaan.
0 Komentar

12. Batas antara “menjaga batas” dan “tidak peduli” tetap tipis

Pada akhirnya, quiet quitting tidak selalu berarti seseorang berhenti peduli terhadap pekerjaannya.

Ada pekerja yang hanya ingin bekerja sesuai kontrak dan tetap menghasilkan pekerjaan berkualitas.

Baca Juga:Rekomendasi 12 Mobil Hybrid Kabin Luas untuk Perjalanan Akhir Pekan, No 11 Irit BBM tapi Tetap Nyaman12 Gerakan Olahraga yang Dapat Dilakukan Sebelum Aktivitas Jumat Pagi, Cuma 10 Menit Biar Badan Nggak Kaku!

Namun, ada pula kondisi ketika keterlibatan seseorang benar-benar merosot hingga pekerjaan hanya dilakukan sekadarnya.

Keduanya perlu dibedakan.

Karena itu, perdebatan mengenai quiet quitting seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah karyawan malas atau tidak.

Pertanyaan yang lebih penting justru: mengapa seseorang yang sebelumnya mau memberikan lebih akhirnya memilih memberikan secukupnya?

Di situlah persoalan budaya kerja mulai terlihat.

Fenomena ini pun kemungkinan akan terus menjadi bahan perdebatan di LinkedIn dan platform profesional lainnya.

Bagi pekerja, quiet quitting dapat dipandang sebagai cara menjaga batas kehidupan pribadi.

Bagi perusahaan, fenomena tersebut bisa menjadi alarm bahwa ada persoalan mengenai beban kerja, komunikasi, penghargaan atau keterikatan karyawan yang perlu diperiksa.

0 Komentar