KBEONLINE.ID – Istilah quiet quitting kembali ramai diperbincangkan di LinkedIn.
Bagi sebagian pekerja, istilah tersebut bukan berarti benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan, melainkan memilih bekerja sesuai tanggung jawab yang tercantum dalam pekerjaan tanpa terus-menerus mengambil beban tambahan.
Percakapan mengenai fenomena ini kembali terlihat dalam berbagai unggahan profesional dan akun yang bergerak di bidang rekrutmen.
Baca Juga:Rekomendasi 12 Mobil Hybrid Kabin Luas untuk Perjalanan Akhir Pekan, No 11 Irit BBM tapi Tetap Nyaman12 Gerakan Olahraga yang Dapat Dilakukan Sebelum Aktivitas Jumat Pagi, Cuma 10 Menit Biar Badan Nggak Kaku!
Salah satunya datang dari akun AGK Recruitment yang menyebut quiet quitting berkaitan dengan kondisi ketika karyawan mulai bekerja sebatas porsinya setelah menghadapi beban kerja berlebih, minim apresiasi atau persoalan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Fenomena tersebut menarik perhatian karena lingkungan perkantoran kawasan Sudirman Central Business District atau SCBD kerap dianggap sebagai salah satu simbol budaya kerja profesional di Jakarta.
Namun, apakah benar pekerja SCBD sedang ramai-ramai melakukan quiet quitting?
Tidak sesederhana itu.
Berikut hal yang perlu dipahami perihal Quiet Quitting kembali ramai di kalangan pekerja SCBD dikutip dari YouTube Vina Jum’at, (11/9/2026).
1. Quiet quitting bukan berarti benar-benar resign
Istilah quiet quitting memang sering menimbulkan salah pengertian.
Karyawan yang melakukan quiet quitting tidak serta-merta mengajukan surat pengunduran diri. Mereka masih bekerja, hadir dalam pekerjaan dan menyelesaikan tugas.
Perbedaannya, mereka mulai membatasi energi yang diberikan untuk pekerjaan sesuai tanggung jawab utama.
Gallup menggambarkan pekerja yang masuk kategori not engaged sebagai orang yang melakukan upaya minimum yang diperlukan sekaligus memiliki keterikatan psikologis yang rendah terhadap pekerjaannya.
2. Kerja sesuai jobdesk mulai dianggap sebagai bentuk menjaga batas
Salah satu perdebatan terbesar mengenai quiet quitting adalah soal pekerjaan tambahan.
Baca Juga:14 Rekomendasi Tempat Makan Sambal Dadak di Jatimulya Tambun Selatan dan Bekasi Timur, No 13 Ajib!Jangan Asal Download! Ini 13 Aplikasi Penghasil Uang 2026 yang Punya Cara Cuan Jelas dan Terbukti Membayar
Dalam budaya kerja yang sangat kompetitif, pekerja terkadang merasa harus selalu menunjukkan bahwa dirinya bersedia mengambil tugas tambahan, membalas pesan di luar jam kerja atau bekerja lebih lama.
Namun, sebagian pekerja kini mulai mempertanyakan apakah seluruh tambahan tersebut memang bagian dari tanggung jawab pekerjaannya.
Pandangan ini kemudian melahirkan gagasan bahwa menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak bukan berarti malas.
3. Bukan cuma soal malas bekerja
Menyebut semua pelaku quiet quitting sebagai pekerja malas juga terlalu sederhana.
