KBEONLINE.ID – TITIK sorot tertuju pada perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, yang disebut menjadi awal rangkaian kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di wilayah Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/04/2026). Lantas, seperti apa kondisinya?
Perlintasan sebidang ini berada di Jalan Ampera Kelurahan Duren Jaya Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi. Di titik ini taksi hijau Green SM mogok tepat di atas rel hingga akhirnya tertemper KRL Commuter Line yang melaju dari arah Cikarang. Insiden itu membuat perjalanan kereta lainnya terhenti, termasuk KRL naas yang dihantam KA Argo Bromo Anggrek saat berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Perlintasan sebidang Ampera berada beberapa ratus meter dari Stasiun Bekasi Timur. Perlintasan ini menjadi akses pintas pengendara dari arah Ampera maupun Jalan Profesor Mohammad Yamin menuju Jalan Insinyur Haji Juanda, tepatnya underpass Bulak Kapal.
Baca Juga:Buruh di Bekasi Diduga Konsumsi Tramadol dan Eximer Demi Kuat KerjaMahasiswa Cipayung Plus Dibungkam, Pemkab Bekasi Siapkan Kursi Strategis
Sebagaimana akses pintas pada umumnya, Jalan Ampera hanya memiliki lebar lebih kurang enam meter atau cukup untuk doa mobil. Meski bukan jalan utama, intensitas kendaraan yang melintas terbilang padat. Selain akses pintas, lingkungan di sekitar perlintasan pun merupakan perkampungan padat. Pada jam sibuk, kemacetan tidak dapat terhindarkan di jalur ini.
Perlintasan Liar
Berdasarkan informasi yang dihimpun “Cikarang Ekspres” di sekitar lokasi, perlintasan Ampera sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Semula perlintasan tersebut hanya digunakan warga untuk melintas dengan berjalan kaki.
“Kalau tidak salah dari tahun 1970, saya dapat cerita dari bapak saya yang memang dari kecil juga di sini. Dulunya masih tanah belum aspal, memang sudah ada perlintasan. Orang jalan kaki ke sini,” ucap Awang (40), warga sekitar.
Dari hanya berjalan kaki, perlintasan kemudian mulai dilewati oleh kendaraan, namun sebatas roda dua, maksimal becak. “Karena ada patok dipasang di tengah, jadi mobil memang sudah enggak boleh lewat. Becak doang paling,” kata dia.
Belakangan, perlintasan itu semakin ramai seiring dengan berkembangnya lingkungan sekitar. Meski liar, perlintasan kian jadi akses andalan pengendara untuk memangkas jalan. Saking ramainya yang melintas, perlintasan pun difasilitasi aspal oleh pemerintah setempat. Di sisi lain, perlintasan ini pun menjadi ladang usaha bagi warga sekitar.
