‎ ‎Akreditasi yang Memanusiakan Sekolah

Dr. Nurul Fahimah ‎Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Anggota BAN-PDM Jawa Barat, Dire
Dr. Nurul Fahimah, Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Anggota BAN-PDM Jawa Barat, Direktur PAUDTALK Academy
0 Komentar

‎Perubahan arah kebijakan akreditasi saat ini menunjukkan pergeseran yang mendasar. Akreditasi tidak lagi berorientasi pada compliance atau kepatuhan administratif, tetapi bergerak menuju performance—kinerja nyata yang berdampak pada peserta didik. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan instrumen, melainkan perubahan cara pandang dalam memaknai mutu pendidikan. Sekolah tidak lagi dinilai dari apa yang dimilikinya, tetapi dari apa yang dilakukannya.‎‎Dalam kerangka baru ini, akreditasi dirancang untuk menangkap realitas praktik pendidikan secara lebih utuh. Penilaian tidak hanya bertumpu pada dokumen, tetapi diperkuat melalui triangulasi data—observasi, wawancara, dan telaah bukti yang relevan. Dengan demikian, yang dinilai bukan sekadar keberadaan program, melainkan bagaimana program tersebut dijalankan dan memberikan dampak. Pendekatan ini menempatkan akreditasi sebagai proses yang substansial dan mendalam, bukan sekadar prosedural.‎‎Lebih jauh, akreditasi juga mengedepankan prinsip kontekstual. Tidak ada satu cara tunggal bagi sekolah untuk menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas. Setiap satuan pendidikan memiliki karakteristik, tantangan, dan strategi yang berbeda. Oleh karena itu, akreditasi tidak lagi memaksakan keseragaman, tetapi memberi ruang bagi sekolah untuk menjelaskan praktik terbaiknya. Dalam konteks ini, sekolah tidak lagi menjadi objek yang dinilai, tetapi subjek yang dipahami.‎ Ketika Data Berbicara

‎Pergeseran paradigma tersebut menjadi semakin relevan ketika dibaca berdampingan dengan realitas di lapangan. Hasil akreditasi menunjukkan bahwa capaian pada aspek hasil belajar peserta didik masih berada pada posisi terendah dibandingkan komponen lainnya. Ini menandakan bahwa proses pembelajaran belum sepenuhnya menghasilkan dampak yang diharapkan. Pembelajaran masih cenderung berfokus pada penyampaian materi, belum secara konsisten mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi, refleksi, dan keterkaitan dengan konteks kehidupan nyata.‎‎Di sisi lain, aspek kepemimpinan satuan pendidikan juga menunjukkan tantangan tersendiri. Peran kepala sekolah belum sepenuhnya bergerak sebagai penggerak utama peningkatan mutu berbasis data dan refleksi. Fungsi manajerial administratif masih lebih dominan dibandingkan peran sebagai pemimpin pembelajaran. Akibatnya, perbaikan mutu sering kali belum menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya.‎‎Kondisi serupa juga terlihat pada iklim lingkungan belajar. Upaya membangun lingkungan yang inklusif, aman, dan mendukung kesejahteraan peserta didik masih belum terimplementasi secara sistemik dan berkelanjutan. Padahal, aspek ini merupakan fondasi penting bagi terwujudnya pembelajaran yang bermakna.‎ ‎ Menuju Akreditasi yang Memanusiakan

0 Komentar