Di rumah, orang tua memegang peran yang tidak kalah penting. Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Orang tua perlu hadir dalam proses belajar, mendampingi penggunaan gawai, membatasi konsumsi konten yang tidak mendidik, membangun komunikasi yang hangat, dan menanamkan kebiasaan baik sejak dini. Anak yang mendapat teladan baik di rumah akan lebih mudah menerima nilai-nilai kebaikan di sekolah. Sebaliknya, pendidikan sekolah akan sulit berhasil apabila lingkungan rumah tidak mendukung pembentukan akhlak dan literasi.
Masyarakat juga perlu menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Lingkungan yang aman, religius, ramah anak, dan menghargai ilmu akan memperkuat pesan pendidikan yang diberikan sekolah dan keluarga. Masjid, majelis taklim, taman bacaan, komunitas pemuda, dan lembaga sosial dapat mengambil peran dalam membangun budaya literasi sekaligus menumbuhkan akhlak sosial anak. Pendidikan dasar akan jauh lebih bermakna apabila seluruh lingkungan anak bergerak dalam arah yang sama.
Pada akhirnya, pendidikan dasar yang kuat bukan hanya menghasilkan anak yang mampu menjawab soal ujian. Pendidikan dasar yang kuat melahirkan anak yang mencintai ilmu, mampu berpikir jernih, santun dalam bertutur, bertanggung jawab dalam bertindak, serta memiliki fondasi iman dan akhlak yang kokoh. Jika akhlak dan literasi dikuatkan sejak pendidikan dasar, maka kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap menghadapi zaman, tetapi juga mampu memberi arah kebaikan bagi zamannya. (*)
