‎Akhlak dan Literasi sebagai Fondasi Pendidikan Dasar

Dosen IRAKS
Dosen dan Kaprodi PGMI Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), ‎Vina Febiani Musyadad, M.Pd. -kbeonline.id
0 Komentar

ANAK-ANAK hari ini tumbuh dalam dunia yang bergerak sangat cepat. Mereka akrab dengan layar, video pendek, gim daring, media sosial, dan banjir informasi yang datang silih berganti. Di satu sisi, teknologi membuka ruang belajar yang luas. Di sisi lain, tanpa pendampingan yang tepat, anak dapat dengan mudah menyerap informasi keliru, bahasa kasar, budaya instan, bahkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.

‎Karena itu, pendidikan dasar tidak boleh dipahami sekadar sebagai tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan dasar adalah ruang awal pembentukan manusia. Pada jenjang inilah anak mulai membangun cara berpikir, kebiasaan belajar, sikap sosial, dan nilai-nilai hidup. Jika fondasinya kuat, anak akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Jika fondasinya rapuh, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi lemah dalam karakter, etika, dan tanggung jawab moral.

‎Dalam konteks inilah akhlak dan literasi perlu ditempatkan sebagai dua pilar utama pendidikan dasar. Literasi membuat anak mampu membaca teks, memahami informasi, menimbang kebenaran, dan mengambil keputusan secara jernih. Akhlak mengarahkan kemampuan itu agar digunakan untuk kebaikan. Anak yang literat tetapi tidak berakhlak dapat menggunakan pengetahuannya secara keliru. Sebaliknya, anak yang berakhlak tetapi tidak dibekali literasi yang memadai akan kesulitan menghadapi kompleksitas zaman.

Baca Juga:Tekan Stunting Lewat Jalur Kemitraan Non-APBN, Pemkab Karawang Kolaborasi Himpun 28 Ton TelurSukses Meriahkan Forkab III, AKTI Karawang Incar Prestasi di Forprov Jabar 2026

‎Dalam Islam, literasi memiliki landasan yang sangat kuat. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah perintah membaca, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5. Perintah iqra’ tidak hanya bermakna membaca huruf dan teks, tetapi juga membaca realitas kehidupan, memahami tanda-tanda kebesaran Allah, serta menggunakan ilmu untuk menghadirkan kemaslahatan. Dengan demikian, literasi dalam pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada kemampuan teknis membaca. Literasi harus berkembang menjadi kemampuan berpikir, memahami, menilai, dan bertindak secara benar.

‎Tantangan pendidikan dasar pada era digital semakin kompleks. Anak-anak tidak hanya berhadapan dengan buku pelajaran, tetapi juga dengan algoritma media sosial, konten hiburan, komentar warganet, iklan digital, dan berbagai informasi yang belum tentu benar. Di sinilah literasi digital menjadi kebutuhan mendesak. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai atau membuka aplikasi pembelajaran. Literasi digital adalah kemampuan memilih informasi, memahami manfaat dan risikonya, menjaga etika komunikasi, menghargai privasi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

0 Komentar