Ketika kita mengira potret buram itu sudah cukup mewakili bobroknya moralitas remaja, fenomena perundungan lain di lingkungan sekolah kembali mencuat ke permukaan, menunjukkan bahwa pudarnya rasa empati telah merambah hingga ke usia yang jauh lebih muda. Salah satu kasus ekstrem yang mengundang keprihatinan publik terjadi di MIS Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Pada Rabu, 13 Mei 2026, seorang siswi kelas V berinisial E menjadi korban tindakan bullying dan kekerasan fisik yang dilakukan oleh tiga teman sekelasnya sendiri, yakni IB, RO, dan AD, saat waktu istirahat berlangsung.
Peristiwa tersebut bermula dari hal yang sangat sepele: permintaan pelaku agar korban bertukar tempat duduk. Karena korban menolak, para pelaku tersulut emosi hingga nekat mengambil tali rafia bekas pengikat wadah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tali yang semula menjadi simbol penunjang kesejahteraan anak di sekolah tersebut, dalam sekejap berubah menjadi instrumen kekerasan yang mengerikan. Tali itu dijeratkan ke leher korban hingga memerah dan membuat kondisi fisik korban melemah tak berdaya.
Peristiwa pilu di Kubu Raya ini tidak hanya memperlihatkan tindakan agresif antar-anak, tetapi juga menggambarkan adanya penurunan sensitivitas sosial yang drastis di lingkungan pendidikan. Anak-anak yang seharusnya belajar menghargai, melindungi, dan bekerja sama dengan teman sebaya justru terlibat dalam perilaku yang membahayakan keselamatan fisik maupun psikologis temannya sendiri. Kondisi tersebut menjadi cerminan bahwa pesatnya arus digitalisasi tidak selalu berjalan beriringan dengan perkembangan karakter dan kecerdasan emosional anak.
Baca Juga:Jadwal SIM Keliling Bekasi Hari Ini Kamis 11 Juni 2026, Cek Lokasi TerdekatOptimalisasi Koperasi Merah Putih di Karawang: Tim Sesdukab Siap Fasilitasi Solusi dan Akselerasi Usaha
Di era digital ini, anak-anak tumbuh di tengah paparan media sosial yang masif, tontonan kekerasan, budaya saling mengejek (cyberbullying), serta minimnya komunikasi interpersonal yang hangat. Situasi ini berpotensi menumpulkan rasa empati karena anak lebih terbiasa melihat konflik sebagai hiburan layar kaca daripada memahami dampak emosional nyata yang dirasakan korban. Akibatnya, tindakan kekerasan sering kali didegradasi maknanya hanya sebagai candaan, bentuk dominasi ego, atau pelampiasan emosi sesaat tanpa mempertimbangkan trauma mendalam yang dialami korban.
