Kisah Pilu Jajat PMI Karawang: Demi Bayi 8 Bulan, Berangkat Cari Rezeki, Pulang dengan Tubuh yang Tak Berdaya

Nasib pilu menimpa Jajat Sudrajat (23), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Pasirawi
Nasib pilu menimpa Jajat Sudrajat (23), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Pasirawi, Kecamatan Rawamerta Kabupaten Karawang.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG — Nasib pilu menimpa Jajat Sudrajat (23), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Pasirawi, Kecamatan Rawamerta Kabupaten Karawang. Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang layak di luar negeri untuk menafkahi keluarganya, Jajat justru menjadi korban penipuan sindikat lowongan kerja internasional. Ia dipaksa bekerja sebagai pelaku penipuan daring (scammer) di Kamboja dengan kondisi kerja yang penuh tekanan.

Peristiwa ini bermula ketika Jajat yang sedang mendesak membutuhkan pekerjaan ditawari oleh seorang rekannya untuk bekerja di sebuah restoran di Kamboja pada Januari lalu. Tergiur dengan iming-iming gaji sebesar 800 dolar AS (sekitar Rp12 juta) per bulan, ia pun memutuskan berangkat demi masa depan sang anak yang saat itu masih berusia 8 bulan. Istrinya, Zulfa Afifah (21), melepas kepergian sang suami dengan restu penuh karena mengira Jajat akan bekerja secara legal di sektor kuliner.

Namun, kenyataan pahit langsung menyambut Jajat begitu tiba di negara tujuan. Alih-alih memegang peralatan dapur restoran, ia justru dimasukkan ke dalam perusahaan online scam. Berbeda jauh dari janji manis awal, hak keuangan Jajat dipotong secara sepihak. Selama tiga bulan pertama, ia hanya menerima upah sebesar 50 dolar AS atau tidak sampai Rp800 ribu per bulan dengan jam kerja lembur yang sangat tidak manusiawi.

Baca Juga:TAK ADA AMPUN! PHRI Karawang Desak Pemkab Tindak Tegas Aktivitas LGBT dan Pelanggaran Izin Usaha60 Penyanyi Adu Suara di Panggung HAPMI Karawang 2026, Sintia Widia Putri Keluar Sebagai Juara

“Awalnya karena di sini sedang butuh pekerjaan, makanya ditawari ke sana. Sampai akhirnya salah masuk perusahaan karena diiming-imingi sebesar itu. Tekanan kerja gede, tapi gaji enggak sesuai,” ujar Jajat, Senin (15/6).

Karena tidak kuat menahan tekanan kerja yang luar biasa berat dan merasa tertipu, Jajat mengambil keputusan nekat untuk melarikan diri dari komplotan tersebut. Pada sebuah malam, ia nekat menjatuhkan diri dari jendela lantai 3 gedung perusahaan tempatnya disekap. Akibat aksi penyelamatan diri yang ekstrem itu, Jajat mengalami luka fisik yang sangat parah, yakni patah tulang rusuk belakang serta keretakan di dua titik bagian pinggul yang membuatnya lumpuh seketika.

Pasca-kejadian tersebut, Jajat ditemukan tergeletak tanpa daya di depan kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh, Kamboja. Pihak KBRI yang dipimpin oleh Pak Dadang segera melarikan Jajat ke rumah sakit setempat. Berdasarkan hasil rekam medis, Jajat membutuhkan tindakan operasi besar dengan estimasi biaya mencapai Rp60 juta. Masalah baru muncul karena anggaran administratif KBRI yang terbatas serta kondisi ekonomi keluarga Jajat di kampung halaman yang tidak mampu membiayai operasi tersebut.

0 Komentar