KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI – Memasuki pertengahan Juni 2026, krisis air bersih mulai mengancam sejumlah wilayah di selatan Kabupaten Bekasi. Kondisi ini dipicu musim kemarau yang menyebabkan sumber air tanah warga mengering, sementara jaringan air perpipaan belum menjangkau seluruh permukiman.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi yang dihimpun Cikarang Ekspres per Sabtu (20/6/2026) pukul 22.00 WIB, sedikitnya 1.857 kepala keluarga (KK) atau sekitar 4.485 jiwa terdampak kekeringan di dua kecamatan, yakni Serang Baru dan Cibarusah.
BPBD mencatat terdapat 10 titik lokasi terdampak kekeringan yang tersebar di Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru (4 titik) dan Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah (6 titik). Di sejumlah lokasi tersebut, sebagian besar sumur warga dilaporkan sudah tidak lagi menghasilkan air, terutama pada siang hingga malam hari.
Baca Juga:Serapan APBD Kabupaten Bekasi Rendah, Plt Bupati Minta Seluruh OPD Gas Pembangunan Mulai JuliPolres Metro Bekasi Buka Jalan bagi Atlet Mobile Legends Berbakat untuk Tembus Level Nasional
Kondisi itu membuat warga harus bergantung pada suplai air bersih dari pemerintah daerah. Sebagian lainnya terpaksa mencari sumber air alternatif yang berjarak cukup jauh dari permukiman.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan pihaknya terus mempercepat distribusi bantuan air bersih ke wilayah terdampak. Hingga 20 Juni 2026, total sedikitnya 115.000 liter air bersih telah disalurkan ke berbagai titik krisis.
“Distribusi dilakukan secara berkelanjutan sejak 9 Juni dengan sistem ritase menggunakan armada tangki. Kami juga dibantu Satpol PP, aparat desa, serta relawan dan masyarakat setempat,” ujar Muchlis kepada Cikarang Ekspres, Minggu (21/6).
Sejumlah armada tangki BPBD, kata Muchlis dikerahkan secara bergantian untuk memastikan pasokan air tetap berjalan setiap hari, terutama di wilayah dengan tingkat kebutuhan tinggi.
Dalam dua hari terakhir, 19-20 Juni 2026, beberapa wilayah seperti Kampung Korod dan Kampung Cihoe di Desa Ridogalih, serta Kampung Tegal Badak di Desa Nagasari, menjadi prioritas distribusi bantuan.
“Di lokasi tersebut, kami sedikitnya menyalurkan sekitar 10.000 liter air bersih per hari di masing-masing titik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, mulai dari memasak, mandi, hingga air minum,” kata Muchlis.
Namun tingginya kebutuhan membuat distribusi harus dilakukan secara bergilir agar seluruh wilayah terdampak tetap terlayani.
Baca Juga:Ternyata di Tengah Kota Jakarta Masih Ada Kampung Bernama Goa Monyet : Suasananya Masih Asri Khas Perkampungan64.842 Pelajar Belum Rekam e-KTP, Disdukcapil Kabupaten Bekasi Genjot Jemput Bola ke Sekolah
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kabupaten Bekasi Dodi Supriyadi menambahkan penyebab utama kekeringan tahun ini adalah menurunnya curah hujan akibat musim kemarau yang mulai menguat di wilayah Jawa Barat bagian utara. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya debit air tanah di sumur-sumur warga.
