Sampah Jadi Berkah! Kecamatan Pangkalan Ubah Limbah Rumah Tangga Jadi Tabungan Digital Warga

SAJADAH (Sampah Jadi Berkah)
Pemerintah Kecamatan Pangkalan terus mendorong penguatan tata kelola lingkungan melalui inovasi SAJADAH (Sampah Jadi Berkah) sebagai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG – Pemerintah Kecamatan Pangkalan terus mendorong penguatan tata kelola lingkungan melalui inovasi SAJADAH (Sampah Jadi Berkah) sebagai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Inovasi ini dirancang untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga melalui pemilahan sampah sejak dari sumber, digitalisasi pencatatan, serta pemberian insentif ekonomi bagi masyarakat.

Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis Kecamatan Pangkalan dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah rumah tangga yang hingga kini masih didominasi pola pembuangan tanpa pemilahan. Melalui SAJADAH, pemerintah kecamatan berupaya menghadirkan perubahan pola pikir masyarakat, dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola dan menabung sampah yang memiliki nilai manfaat.

Camat Pangkalan, Teguh I. Sugiarto, menyampaikan bahwa SAJADAH tidak hanya diarahkan sebagai program kebersihan lingkungan, melainkan juga sebagai gerakan sosial dan ekonomi yang mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Baca Juga:Polri Layani 1.500 Warga Lewat Bakti Kesehatan Gratis di Kabupaten BekasiPilkades Serentak Kabupaten Bekasi Digelar 20 September 2026, Begini Tahapan Terbarunya

“SAJADAH merupakan inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dimulai dari tingkat rumah tangga dengan pendekatan pemilahan, digitalisasi, dan insentif ekonomi. Program ini dirancang untuk mengubah paradigma masyarakat dari membuang sampah menjadi menabung sampah yang bernilai ekonomis,” ujarnya, Kamis (25/6).

Ia menjelaskan, pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Pangkalan selama ini masih menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi perilaku masyarakat maupun sistem pengelolaan yang belum sepenuhnya berjalan dari hulu. Rendahnya kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari rumah menjadi salah satu persoalan utama yang berdampak pada meningkatnya beban pengangkutan dan penanganan sampah di hilir.

Berdasarkan kondisi lapangan, sebagian besar sampah rumah tangga di Kecamatan Pangkalan masih tercampur tanpa proses pemilahan. Volume sampah yang dihasilkan pun mencapai sekitar 28 ton per hari dan terus mengalami peningkatan.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap tempat penampungan sementara (TPS) dan tempat pemrosesan akhir (TPA) masih cukup tinggi, sementara masyarakat belum memperoleh manfaat langsung dari sampah yang mereka hasilkan.

Menurut Teguh, kondisi tersebut diperparah oleh minimnya edukasi dan kesadaran masyarakat, belum adanya insentif ekonomis yang mendorong partisipasi warga, serta belum tersedianya platform digital yang mampu mengintegrasikan pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga pengolahan lanjutan.

0 Komentar