Menolak Dikasiha­ni, Engkus Buktikan Difabel Bisa Mandiri Lewat Program This Ability

Engkus Kusnadi
Engkus Kusnadi dan dua produk UMKM Hasna Mandiri
0 Komentar

Setelah menikah, Engkus perlahan mampu mencicil sepeda motor bebek empat tak berwarna perak. Motor tersebut menjadi alat utama untuk mencari nafkah.

Kondisi fisiknya membuat ia harus melakukan sejumlah penyesuaian. Beberapa kain dan jaket berwarna hitam ditempatkan di bagian tangki bensin sebagai bantalan agar ia bisa duduk dan mengendarai motor dengan lebih nyaman.

Engkus sebenarnya ingin bergabung menjadi pengemudi ojek daring. Namun, keinginannya terbentur persyaratan kendaraan yang umumnya menggunakan motor matik atau kendaraan keluaran lebih baru.

Baca Juga:Delonix Hotel Karawang Tawarkkan Wellness Staycation di Momen KemerdekaanRekor di Era Bupati Aep, Perumdam Tirta Tarum Catat Laba Bersih Rp 17,27 M, Targetkan Naik Lagi

Motor matik cukup sulit dikendarai dengan kondisi fisiknya. Sementara untuk membeli motor baru, kemampuan ekonominya belum memungkinkan.

Akhirnya, ia tetap bertahan sebagai pengemudi ojek pangkalan.

Pagi hari menjadi waktu tersibuk. Penumpangnya biasanya karyawan pabrik dan anak sekolah. Setelah itu, Engkus pulang untuk sarapan atau pergi ke pasar membeli bahan baku produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Penghasilannya dari ojek pun tidak menentu. Sesekali ia bisa mendapatkan sekitar Rp50 ribu dalam sehari. Namun, lebih sering pendapatannya hanya berkisar Rp5 ribu hingga Rp20 ribu.

Di tengah kondisi tersebut, Engkus kemudian mendapatkan kesempatan mengembangkan kemampuan ekonominya melalui kelompok difabel Hasna Mandiri, kelompok binaan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melalui program This Ability.

Bersama kelompok Hasna Mandiri, Engkus terlibat dalam produksi sejumlah produk UMKM, seperti kecimpring, keripik pisang, dan wedang jahe.

Produk tersebut dipasarkan melalui berbagai cara. Mulai dari penjualan daring, dititipkan di warung-warung, hingga dijajakan langsung di pasar setiap akhir pekan.

Pendampingan yang diberikan PHE ONWJ secara perlahan memberikan perubahan terhadap kehidupan Engkus dan anggota kelompok lainnya.

Baca Juga:Unsika Terapkan Integrated Farming System di Karawang, KWT PEKKA Manfaatkan Limbah Lele Jadi Pupuk OrganikTeknologi Heat Pump Buktikan Potensi Dekarbonisasi Industri, Hemat Biaya hingga Rp744 Juta per Tahun

Pendapatannya meningkat hingga ratusan persen. Perubahan itu bahkan terlihat dari kondisi rumahnya.

Engkus masih mengingat ketika lantai rumahnya dahulu hanya berupa tanah. Kini, lantai tersebut sudah berubah menjadi keramik.

Perubahan itu menjadi salah satu bukti bahwa pemberdayaan ekonomi tidak sekadar berbicara mengenai angka pendapatan, tetapi juga tentang kesempatan bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

“Yang penting saya bisa bekerja dan menghasilkan. Saya tidak ingin dikasihani,” ujar Engkus.

0 Komentar