Menolak Dikasiha­ni, Engkus Buktikan Difabel Bisa Mandiri Lewat Program This Ability

Engkus Kusnadi
Engkus Kusnadi dan dua produk UMKM Hasna Mandiri
0 Komentar

KBEONLINE.ID, JAWA BARAT – Keterbatasan fisik tidak membuat Engkus Kusnadi (47) menyerah pada keadaan. Justru dari keterbatasan itu, warga Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, tersebut terus mencari jalan untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu mandiri dan menghasilkan karya.

Setiap hari, sejak pukul 05.00 WIB atau selepas salat Subuh, Engkus sudah berada di pangkalan ojek yang tidak jauh dari rumahnya. Sejak 2019, pekerjaan sebagai pengemudi ojek pangkalan menjadi bagian dari kehidupannya untuk menghidupi keluarga.

Namun, perjalanan hidup Engkus tidaklah mudah. Sebelum menjadi pengemudi ojek, ia pernah bekerja sebagai gurandil, istilah lokal untuk penambang emas liar di kawasan hutan Jawa Barat.

Baca Juga:Delonix Hotel Karawang Tawarkkan Wellness Staycation di Momen KemerdekaanRekor di Era Bupati Aep, Perumdam Tirta Tarum Catat Laba Bersih Rp 17,27 M, Targetkan Naik Lagi

Pada awal 2000-an, Engkus yang kala itu menghadapi keterbatasan fisik, kondisi ekonomi sulit, dan pendidikan yang terbatas, mengikuti kakaknya masuk ke dalam lubang-lubang tambang emas.

Dengan hanya bermodalkan karung, pahat, dan palu, ia harus menyusuri lorong tambang yang sempit dan gelap. Bahkan, untuk mencapai lokasi penambangan, Engkus harus merangkak masuk ke lubang dengan ukuran yang hanya sedikit lebih besar dari tubuh orang dewasa.

Risikonya pun tidak kecil. Sirkulasi udara di dalam lubang sangat terbatas. Para gurandil bahkan harus menggunakan kipas angin besar dan saluran plastik untuk mengalirkan udara segar dari luar.

Setelah mendapatkan batuan yang mengandung urat emas, Engkus harus kembali melalui lorong yang sama sambil membawa karung berisi batuan dengan berat mencapai 40 kilogram.

“Kalau satu karung biasanya hanya dapat satu gram emas,” kenangnya.

Selama bekerja, Engkus dan kelompoknya bisa tinggal dua hingga tiga malam di tengah hutan. Kondisi kerja jauh dari standar keselamatan, sementara ancaman konflik antarkelompok penambang juga selalu membayangi.

Seiring waktu, Engkus memutuskan meninggalkan pekerjaan tersebut.

Ia kemudian memilih menjadi pengemudi ojek pangkalan. Penghasilannya saat itu juga jauh dari kata besar.

Baca Juga:Unsika Terapkan Integrated Farming System di Karawang, KWT PEKKA Manfaatkan Limbah Lele Jadi Pupuk OrganikTeknologi Heat Pump Buktikan Potensi Dekarbonisasi Industri, Hemat Biaya hingga Rp744 Juta per Tahun

“Saya hanya kantongi uang tiga ribu rupiah untuk biaya menikah,” ujar Engkus.

Namun, Engkus memilih untuk tidak menyerah. Baginya, rezeki harus dijemput dengan kerja keras.

“Saya malu kalau ada orang yang ngasih ke saya karena saya disabilitas. Saya mau orang malah bangga ke saya. Saya ingin membuktikan, orang seperti kami juga mampu,” katanya.

0 Komentar