KBEONLINE.ID – Fenomena mobil listrik murah kembali mengguncang pasar otomotif nasional. Kali ini datang dari Jaecoo lewat model andalannya, Jaecoo J5 EV yang langsung diserbu konsumen sejak pertama kali diperkenalkan. Namun di tengah lonjakan penjualan yang luar biasa, publik justru dibuat heran ketika petinggi perusahaan malah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Permintaan maaf tersebut disampaikan oleh Cheng Jixu, bukan karena produk bermasalah, melainkan karena tingginya permintaan yang membuat pengiriman unit menjadi terlambat. Situasi ini menggambarkan fenomena unik: sebuah produk yang terlalu sukses hingga membuat produsennya kewalahan sendiri.
Lonjakan minat ini tidak lepas dari strategi agresif yang diterapkan Jaecoo di pasar Indonesia. Dengan harga yang relatif terjangkau untuk ukuran mobil listrik, J5 EV langsung menarik perhatian masyarakat luas, termasuk konsumen yang sebelumnya belum pernah mempertimbangkan kendaraan listrik.
Baca Juga:Begini Rasanya Menginap di Bobocabin Paling Tinggi di Indonesia! Lokasinya Ada di BandungSecara Infrastruktur Tertinggal Tapi Kenapa Desa di Bandung Ini Disebut Desa Sultan?
Strategi Harga “Gila” yang Mengacak Pasar
Salah satu faktor utama kesuksesan Jaecoo J5 EV adalah strategi harga yang bisa dibilang “merusak pasar”. Dengan banderol mulai dari Rp249 juta hingga Rp299 juta, mobil ini masuk ke segmen yang sebelumnya didominasi kendaraan berbahan bakar bensin.
Harga tersebut membuat J5 EV bersaing langsung dengan mobil LMPV dan SUV kecil konvensional. Padahal, dari sisi teknologi, mobil ini sudah sepenuhnya listrik, yang biasanya identik dengan harga jauh lebih mahal.
Dampaknya sangat besar. Banyak konsumen yang sebelumnya ragu kini mulai melirik mobil listrik karena barrier harga yang selama ini menjadi penghalang utama berhasil ditembus.
Ledakan Pesanan, Antrean Mengular
Kesuksesan ini ternyata membawa tantangan baru bagi perusahaan. Dalam waktu singkat, jumlah pemesanan atau SPK mencapai lebih dari 12.000 unit, angka yang jauh melampaui ekspektasi awal.
Dari jumlah tersebut, baru sekitar 3.000 unit yang berhasil dikirim ke konsumen. Artinya, masih ada ribuan unit yang harus menunggu dalam antrean panjang.
Kondisi inilah yang membuat pihak manajemen merasa perlu menyampaikan permintaan maaf. Mereka menyadari bahwa ekspektasi konsumen sangat tinggi, apalagi banyak yang berharap mobil ini bisa digunakan untuk kebutuhan penting seperti mudik Lebaran.
