Potret paling pilu terlihat dari kondisi beberapa pekerja yang masih bertahan di area stadion. Tribun utara, selatan, dan timur kini gelap gulita. Tanpa listrik, tanpa kepastian, mereka tidur di lantai proyek dengan sisa harapan yang makin menipis.
Sebagian sempat pulang saat Lebaran, namun kembali lagi dengan harapan upah dibayarkan. Harapan itu kini mulai memudar.
“Saya mau pulang juga bingung, belum ada hasil. Tapi kalau di sini juga tidak jelas,” kata Farhan saat itu.
Kontraktor Bungkam, Pemerintah Diharapkan Turun Tangan
Baca Juga:BBM Langka, TPA Burangkeng LumpuhRekomendasi Tablet Realme Pad Terbaik 2026, Layar Lega Harga Terjangkau, Cocok buat Gaming dan Harian
Upaya konfirmasi kepada Fajri hanya berujung jawaban singkat. “Saya masih di jalan, Pak,” tulisnya dalam pesan pada 21 April 2026. Hingga Kamis (23/4/2026), pesan lanjutan tak lagi mendapat respons.
Sementara itu, pihak CV Sexy Road Indo belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tunggakan tersebut.
Para pekerja, pemilik warung, hingga penyedia material kini hanya berharap ada mediasi dan penyelesaian konkret, termasuk dari Pemerintah Kabupaten Karawang.
“Tidak harus langsung lunas. Dicicil juga tidak apa-apa. Yang penting ada tanggung jawab,” ujar Mimin saat itu.
Di balik megahnya stadion yang hampir rampung, tersimpan kisah tentang orang-orang kecil yang justru harus menanggung beban paling besar. Mereka bukan hanya kehilangan upah, tetapi juga kepercayaan pada janji, pada proyek, dan pada sistem yang seharusnya melindungi mereka.
