KARAWANG, KBEonline.id — Riuh pembangunan Stadion Singaperbangsa yang sempat digadang sebagai simbol kemajuan infrastruktur daerah, kini menyisakan cerita getir di balik tribun yang berdiri. Tahap kedua renovasi stadion itu justru menyeret puluhan pekerja dan pelaku usaha kecil ke dalam pusaran utang yang tak kunjung dibayar.
Nama kontraktor pelaksana, CV Sexy Road Indo, kini menjadi sorotan. Sosok mandor lapangan bernama Fajri disebut menghilang, meninggalkan kewajiban pembayaran yang diduga mencapai ratusan juta rupiah.
Upah Tak Kunjung Dibayar, Pekerja Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Farhan Fakhrurrozi (28), kepala rombongan pekerja asal Cikarang, menjadi salah satu yang paling terdampak. Ia mengaku sudah menyelesaikan pekerjaan sejak 25 Februari 2026, namun hingga kini belum menerima upah sepeser pun.
Baca Juga:BBM Langka, TPA Burangkeng LumpuhRekomendasi Tablet Realme Pad Terbaik 2026, Layar Lega Harga Terjangkau, Cocok buat Gaming dan Harian
“Total yang belum dibayar ke saya dan tim sekitar Rp23 juta. Kami delapan orang, dari Cianjur, Garut, sampai Cikarang,” ujar Farhan Jumat (16/4/2026) lalu.
Sejak direkrut pada 12 Januari, Farhan dan timnya mengerjakan pemasangan granit, plester, hingga pengelasan di area tribun utara, selatan, dan timur stadion. Pekerjaan rampung, namun hak mereka justru menggantung.
Lebih dari sekadar menunggu, Farhan memilih bertahan di lokasi proyek. Ia tidur di dalam stadion yang gelap tanpa penerangan, mandi di fasilitas umum, dan mencari pekerjaan serabutan di sekitar lokasi untuk sekadar bertahan hidup.
Di balik itu, ada beban yang lebih berat. Ia mengaku telah menggadaikan motor Vario 160 keluaran Tahun 2023 dan menjaminkan BPKB demi menalangi kebutuhan timnya selama bekerja.
“Saya yang ngajak mereka kerja. Jadi saya merasa bertanggung jawab. Tapi sekarang malah seperti ini,” katanya lirih.
Dari Janji ke Janji, Tanpa Kepastian
Menurut pengakuan para pekerja, komunikasi dengan pihak mandor hanya berisi janji yang terus berulang. Sejak awal Maret, tidak ada lagi uang yang masuk, bahkan untuk sekadar kebutuhan makan harian.
“Katanya mau dibayar, tunggu minggu depan, tapi tidak pernah ada realisasi,” ujar Farhan.
Baca Juga:Terungkap, Makam Viral di Setu Ternyata Makam Keluarga, Akses Jalan Tersandung Status LahanLampu RTH Cikampek Sempat Dicuri, DLH Karawang Pastikan Kini Kembali Terpasang
Di sudut lain proyek, kisah Broto (40), pekerja asal Tanjungpura, menggambarkan getirnya nasib buruh harian. Ia bekerja sejak awal Januari hingga 24 Januari 2026 dengan upah Rp110 ribu per hari, bertugas menyiapkan material seperti pasir dan kebutuhan tim konstruksi lainnya.
