Awalnya, sistem pembayaran berjalan normal. Upah dijanjikan cair setiap dua minggu, disertai kasbon untuk kebutuhan harian. Namun sejak akhir Desember, semuanya mulai tersendat.
“Desember masih lancar, tapi masuk Januari sudah macet. Sampai sekarang belum dibayar,” ujar Broto, Selasa (21/4/2026) lalu.
Di bawah koordinasi mandor Wawan, rombongan Broto awalnya berjumlah tujuh orang. Namun karena ketidakpastian proyek, jumlah itu menyusut menjadi empat orang pada Januari. Ironisnya, baik yang bertahan maupun yang sudah berhenti, sebagian besar belum menerima upah.
Baca Juga:BBM Langka, TPA Burangkeng LumpuhRekomendasi Tablet Realme Pad Terbaik 2026, Layar Lega Harga Terjangkau, Cocok buat Gaming dan Harian
“Dari tujuh orang di Desember, empat belum dibayar. Masuk Januari tinggal empat orang, dan itu juga belum dibayar sampai sekarang,” katanya.
Total tunggakan yang dialaminya sekitar Rp1,5 juta, angka yang mungkin kecil bagi proyek besar, tetapi sangat berarti bagi pekerja harian.
Sebagai anak buah, Broto hanya bisa menagih ke kepala rombongannya. Jawaban yang diterima pun sama: diminta bersabar karena pembayaran dari atas belum turun.
“Katanya sabar, belum cair dari atas. Ya saya percaya saja,” ucapnya.
Janji pelunasan sebelum bulan puasa sempat menjadi harapan. Para pekerja bahkan diminta mengebut pekerjaan. Namun kenyataannya, Broto hanya menerima kasbon Rp500 ribu.
“Katanya mau dilunasin, tapi cuma dikasih Rp500 ribu. Sisanya enggak jelas,” tuturnya.
Di rumah, istrinya terus menanyakan upah yang tak kunjung datang. Dengan dua anak yang harus dinafkahi, Broto kini bertahan dari pekerjaan serabutan.
Baca Juga:Terungkap, Makam Viral di Setu Ternyata Makam Keluarga, Akses Jalan Tersandung Status LahanLampu RTH Cikampek Sempat Dicuri, DLH Karawang Pastikan Kini Kembali Terpasang
“Kerja jalan terus, tapi enggak dibayar. Mau gimana lagi,” katanya.
Warung Kecil Ikut Tumbang, Utang Menggunung
Tak hanya pekerja, dampak proyek ini juga menghantam pelaku usaha kecil di sekitar stadion. Warung makan yang selama ini menjadi penopang kebutuhan pekerja kini justru terjerat utang.
Mimin Suherni, pemilik warung nasi di sekitar proyek, mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
“Dari awal proyek sampai sekarang belum ada pembayaran. Total sekitar Rp25 juta. Saya kasihan sama pekerja, jadi tetap saya kasih makan,” ujar Mimin, Jumat (16/4/2026) lalu.
