Laut Tarumajaya Diduga Tercemar Limbah, Nelayan Beralih Jadi Buruh hingga Pemulung

Jeritan sunyi terdengar dari pesisir Pantai Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.
Jeritan sunyi terdengar dari pesisir Pantai Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI – Jeritan sunyi terdengar dari pesisir Pantai Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga diduga tercemar limbah industri, hingga membuat nelayan kerang kehilangan mata pencaharian.

Informasi yang dihimpun Cikarang Ekspres, terdapat zat polutan yang diduga berasal dari aktivitas industri di sekitar kawasan pesisir yang membuat komoditas kerang berangsur surut. Sementara itu, ikan-ikan disebut menjauh ke tengah laut, wilayah yang sulit dijangkau perahu tradisional nelayan pinggiran.

Sejak awal Mei 2026, kondisi perairan di wilayah tersebut disebut mengalami perubahan signifikan terhadap nasib nelayan disana. Selain penurunan hasil tangkapan, sebagian dari mereka juga mengeluhkan pendangkalan yang berdampak pada sulitnya mencari kerang seperti biasanya.

Baca Juga:Masuk Musim Kemarau Ribuan Warga Cibarusah dan Serang Baru Kesulitan Air BersihSerapan APBD Kabupaten Bekasi Rendah, Plt Bupati Minta Seluruh OPD Gas Pembangunan Mulai Juli

Kerang-kerang yang sebelumnya menjadi andalan hasil tangkapan kini sulit ditemukan. Kondisi ini membuat aktivitas nelayan di Laut Tarumajaya menurun drastis dan berdampak langsung pada pendapatan mereka.

Samsur (47), salah satu nelayan kerang setempat, mengaku kondisi laut saat ini sudah sangat memprihatinkan. Ia menyebut pendapatan nelayan anjlok hingga sekitar 70 persen akibat dugaan pencemaran tersebut.

“Sekarang bukan semakin parah lagi, bahkan sudah hampir 50 persen nelayan menganggur akibat limbah,” ungkap Samsur kepada Cikarang Ekspres, Minggu 21 Juni 2026.

Ia menuturkan, pada Februari hingga Maret lalu, nelayan masih bisa mendapatkan 30 hingga 50 ember kerang per hari. Namun kini, untuk mendapatkan enam ember saja sudah sulit.

“Sekarang paling dapat enam ember, maksimal 12 ember. Padahal satu ember cuma Rp20 ribu sampai Rp22 ribu,” katanya.

Dari sekitar 60 hingga 70 nelayan kerang di wilayah tersebut, kini hanya tersisa belasan yang masih bertahan. Selebihnya terpaksa berhenti karena hasil laut tak lagi mencukupi kebutuhan hidup.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga beralih profesi menjadi buruh serabutan hingga pemulung demi menyambung hidup.

Baca Juga:Polres Metro Bekasi Buka Jalan bagi Atlet Mobile Legends Berbakat untuk Tembus Level NasionalTernyata di Tengah Kota Jakarta Masih Ada Kampung Bernama Goa Monyet : Suasananya Masih Asri Khas Perkampungan

“Bekerja ya serabutan, kadang kuli panggul. Ada juga yang sampai mulung. Saya sempat dua minggu nganggur cari kerja,” ungkapnya.

Sementara itu, hampir separuh dari total nelayan telah meletakkan dayung mereka. Pantai Makmur kini berubah menjadi desa dengan puluhan pengangguran baru. Demi bertahan hidup, para pencari nafkah laut ini terpaksa beralih profesi menjadi buruh kasar, bahkan pemulung.

0 Komentar