KBEONLINE,ID, BEKASI – Tindak kejahatan seksual yang memilukan kembali mengguncang wilayah Kabupaten Bekasi. Seorang gadis berinisial IA (22), warga Cikarang Selatan, menjadi korban pelecehan seksual brutal yang dilakukan oleh lingkaran keluarga intinya sendiri, yakni ayah kandungnya berinisial MS, serta kedua pamannya, W dan S.
Mirisnya, aksi bejat ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, tepatnya sejak korban masih berumur 13 tahun. Selama hampir satu dekade, korban hidup dalam cengkeraman trauma tanpa memiliki kekuatan untuk melawan.
Penderitaan IA kian berlapis karena tidak adanya ruang aman di dalam rumahnya. Saat mencoba mengadukan perbuatan bejat sang ayah dan paman-pamannya, pihak keluarga termasuk ibu kandungnya justru menutup mata dan melakukan pengabaian.
Baca Juga:Rekomendasi 8 HP 5G Termurah 2026, Spek Gahar Penyimpanan Lega Mulai Rp1 JutaanHarga Emas Antam Hari ini 16 Juli 2026: Turun Tipis Menjadi Rp2.633.000 Per Gram, Cek Rinciannya Di Sini
“Katanya ‘ya sudah enggak apa-apa yang penting enggak sampai hamil’, begitu kata ibunya,” ujar Tim Pelayanan Hukum LBH Apik Jawa Barat, Cut Bietty, menirukan ucapan ibu korban.
Tak hanya sang ibu, saudara-saudara dan tantenya pun melakukan victim blaming (menyalahkan korban) saat IA mencoba mencari pertolongan. Salah seorang kerabat bahkan melontarkan kalimat menyakitkan bahwa tindakan sang ayah terjadi karena sang ibu tidak mampu memberikan kepuasan lahiriah.
“Bahkan ada yang mengatakan ‘mungkin ibu kamu tidak mampu memuaskan bapak kamu, jadi pelampiasannya ke kamu’. Dalam kondisi-kondisi ini korban sangat tertekan. Beberapa kali hendak bunuh diri, bahkan setelah kami evakuasi, sempat juga coba bunuh diri,” kata Cut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, IA merupakan anak semata wayang dari pasangan penjual sembako dan beras yang tergolong berkecukupan. Namun, sejak kecil IA ditelantarkan, kerap dipukuli sang ibu, dan hanya disekolahkan hingga tingkat Sekolah Dasar (SD).
Di tengah tekanan fisik dan mental tersebut, paman korban berinisial W sempat hadir dan berpura-pura menjadi pelindung. Korban yang merasa nyaman akhirnya menaruh kepercayaan penuh pada W. Namun, perlindungan tersebut rupanya hanya kedok.
“Ternyata pamannya ini (W) ini punya hati busuk di mana pelecehan itu akhirnya dilakukannya. Dalam kondisi itu, korban mengaku takut sekaligus bingung. Tapi dia dalam posisi tidak berdaya. Dan itu ternyata berulang kali,” jelas Cut Bietty.
