KBEONLINE.ID SLEMAN – Program ketahanan pangan berbasis lingkungan di SD Purwosari, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi contoh inovasi pembelajaran yang mengajak siswa mengenal dunia pertanian sejak dini. Melalui pemanfaatan sekitar 500 galon bekas, sekolah mengembangkan kegiatan bercocok tanam yang dipadukan dengan pengolahan sampah organik, budidaya ikan, dan pembelajaran lintas mata pelajaran.
Program yang dipimpin Kepala SD Purwosari, Pak Y. Nuri, tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap semakin terbatasnya pengalaman anak-anak perkotaan dalam mengenal pertanian. Sekolah berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui aktivitas langsung mengelola lahan, merawat tanaman, dan memanfaatkan hasil panen. Inovasi ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah desa yang ingin mengembangkan program ketahanan pangan dengan melibatkan lembaga pendidikan dan masyarakat sekitar.
500 Galon Bekas Dimanfaatkan Jadi Wadah Tanam
Inovasi yang dikembangkan SD Purwosari memanfaatkan galon bekas air minum yang dikumpulkan dari lingkungan sekolah dan rumah siswa. Wadah yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah tersebut diubah menjadi tempat menanam berbagai jenis tanaman, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan ruang yang tersedia tanpa harus bergantung pada lahan pertanian yang luas.
Baca Juga:Rekomendasi Tempat Nongkrong di Cibitung: Kopi Kalean Kebon Jati Mirip Kaya Puncak BogorNusa Indah Batu Gede Subang: Wisata Murah Rp5.000 dengan Kolam Mata Air dan Sungai Jernih
Penggunaan galon bekas menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut. Selain mendukung pemanfaatan kembali barang yang sudah tidak digunakan, kegiatan ini memberikan pengalaman kepada siswa mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekitar. Konsep tersebut juga membuka peluang bagi sekolah lain untuk mengembangkan kegiatan pertanian sederhana dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan.
Manfaatkan Kompos Daun Bambu, Media Tanam Tanpa Biaya Besar
Salah satu pendekatan yang diterapkan SD Purwosari adalah penggunaan media tanam berbasis kompos dari sampah organik lokal. Daun bambu yang tersedia di sekitar sekolah diolah menjadi kompos untuk mendukung kegiatan bercocok tanam. Dengan cara ini, sekolah berupaya mengurangi kebutuhan membeli media tanam maupun pupuk kandang dari luar.
Konsep zero cost media tanam yang diperkenalkan dalam program tersebut menunjukkan bagaimana sampah organik dapat diolah menjadi bahan yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian. Proses ini juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk memahami siklus pengelolaan sampah, mulai dari pengumpulan bahan organik, pengomposan, hingga pemanfaatannya dalam budidaya tanaman.
