Menengok Sisa Kejayaan Wisata Taman Limo di Cikarang yang Kini Terbengkalai 

WISATA Taman Limo di Desa Jatiwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi,
Wisata Taman Limo di Desa Jatiwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi,
0 Komentar

WISATA Taman Limo di Desa Jatiwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, pernah menjadi salah satu ruang wisata lokal yang ramai dikunjungi warga. Namun kini, kawasan seluas lebih dari satu hektare itu tampak sunyi, dengan ilalang tinggi dan bangunan yang mulai terbengkalai.

Padahal, pada 2021, Taman Limo sempat menjadi salah satu primadona wisata lokal di Cikarang Barat. Namun memasuki 2026, kawasan tersebut justru menjelma seperti “kota mati” kecil di tengah geliat industri Kabupaten Bekasi.

Di balik kondisi tersebut, tersimpan perjalanan panjang sebuah tempat yang awalnya lahir bukan dari konsep wisata besar, melainkan dari keinginan sederhana warga setempat menghadirkan ruang aktivitas orang banyak.

Baca Juga:Jaecoo J5 EV Mobil Listrik Paling Laku di Indonesia Tapi Kenapa Bosnya Malah Minta Maaf? Ini PenjelasannyaBegini Rasanya Menginap di Bobocabin Paling Tinggi di Indonesia! Lokasinya Ada di Bandung

Santung (37), salah satu mantan pengelola, menceritakan bahwa Taman Limo pertama kali dibuka sekitar tahun 2016-2017. Saat itu, lokasi tersebut hanyalah lahan kosong yang kemudian dimanfaatkan sebagai ruang berkumpul warga.

“Awalnya cuma biar ada kegiatan warga, terutama ibu-ibu dan anak muda yang belum kerja. Supaya ada aktivitas dan sedikit ada pendapatan untuk perputaran ekonomi,” ujar Santung ketika ditemui Cikarang Ekspres, Minggu (19/04).

Dari sekadar tempat berkumpul, perlahan muncul aktivitas jual beli kecil seperti kopi dan makanan ringan. Dari mulut ke mulut, lokasi ini mulai dikenal dan didatangi warga dari berbagai daerah di Cikarang.

Puncak Keramaian di 2021

Perjalanan Taman Limo mencapai puncaknya pada 2021, setelah masa pembatasan pandemi COVID-19 mulai mereda. Santung ingat betul masa masa itu ketika lonjakan pengunjung terjadi cukup drastis.

Area parkir penuh hingga meluber ke jalan desa. Ribuan pengunjung datang setiap akhir pekan untuk menikmati suasana alam, makan di rumah makan apung, hingga membawa anak-anak bermain.

“Masa kejayaan itu di 2021. Parkiran sampai nggak muat, kendaraan sampai ke jalan desa macet parah,” kenang Santung.

Mulai Sepi Setelah Pandemi

Namun seperti gelombang, keramaian itu tak bertahan lama. Memasuki 2022, jumlah pengunjung mulai menurun. Dampaknya langsung terasa pada para pedagang yang mayoritas merupakan warga lokal tanpa pengalaman usaha yang matang.

0 Komentar