Menengok Sisa Kejayaan Wisata Taman Limo di Cikarang yang Kini Terbengkalai 

WISATA Taman Limo di Desa Jatiwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi,
Wisata Taman Limo di Desa Jatiwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi,
0 Komentar

Satu per satu lapak mulai tutup, hingga pada 2023 sebagian besar aktivitas wisata berhenti. Taman Limo pun perlahan kehilangan denyut ekonominya.

“Namanya usaha nggak mungkin selalu ramai. Tapi banyak yang belum siap kalau sepi,” kata Santung.

Dengan luas lahan lebih dari satu hektare, beban perawatan menjadi tidak sebanding jika hanya ditanggung segelintir pengelola. Tanpa dukungan pedagang, kawasan wisata itu pun mulai terbengkalai.

Baca Juga:Jaecoo J5 EV Mobil Listrik Paling Laku di Indonesia Tapi Kenapa Bosnya Malah Minta Maaf? Ini PenjelasannyaBegini Rasanya Menginap di Bobocabin Paling Tinggi di Indonesia! Lokasinya Ada di Bandung

Akses Terputus di 2024

Kondisi semakin sulit ketika akses utama menuju Taman Limo terputus pada 2024 akibat kerusakan jalan. Akses tersebut sebelumnya menjadi jalur utama pengunjung masuk ke lokasi.

“Orang tahunya pintu depan. Pas itu putus, ya sudah, dianggap selesai,” ujar Santung.

Padahal masih ada jalur alternatif, namun minimnya informasi membuat kawasan ini semakin ditinggalkan. Sejak saat itu, hampir tak ada lagi pengunjung yang datang. Bangunan mulai lapuk, suasana berubah menjadi sepi, bahkan cenderung angker.

Beralih ke Ketahanan Pangan

Meski sektor wisata meredup, Santung dan warga sekitar tidak membiarkan lahan tersebut kosong begitu saja. Sejak awal 2024, sebagian area dialihkan menjadi budidaya ikan sebagai bagian dari program ketahanan pangan.

Komoditas utama yang dikembangkan adalah ikan lele, disusul nila yang masih dalam tahap pengembangan.

“Daripada kosong, kita manfaatkan buat budidaya,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 8 hingga 10 warga terlibat dalam kegiatan tersebut. Hasil panen dijual ke pedagang dan pengepul yang datang langsung ke lokasi.

Harga ikan lele berada di kisaran Rp22.000-Rp23.000 per kilogram untuk pedagang, sementara untuk pengepul berkisar Rp20.000-Rp21.000 per kilogram.

Baca Juga:Secara Infrastruktur Tertinggal Tapi Kenapa Desa di Bandung Ini Disebut Desa Sultan?Rp2.000 Dapat Apa? Di Sini Kamu Bisa Renang Sepuasnya di Air Super Jernih!

Di tengah perubahan fungsi lahan tersebut, Santung mengaku belum ada kepastian arah ke depan untuk Taman Limo sebagai destinasi wisata.

Namun ia berharap ada perhatian lebih agar kawasan tersebut dapat kembali dimanfaatkan secara optimal.

“Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi ke depan mau dibawa ke mana, kami juga belum tahu,” pungkasnya lirih.

Kini, Taman Limo berdiri dalam sunyi. Menjadi pengingat bahwa ruang publik bisa tumbuh dari kebersamaan, mencapai puncak dalam sekejap, lalu meredup ketika tak mampu bertahan menghadapi perubahan. Di antara ilalang dan kolam ikan yang tersisa, jejak kejayaan itu masih terasa meski perlahan memudar. (Iky)

0 Komentar