“Kemarin dalam rapat saya dilaporin oleh Kepala KKP bahwa di ikan ini rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Dan itu berbahaya sekali,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (17/4/2026).
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian lanjutan dari Dewi Elfidasari dkk yang dipublikasi di National Library of Medicine pada 2023. Peneliti menemukan hubungan antara kandungan logam berat dengan sistem biologis ikan, termasuk keberadaan bakteri usus yang membantu ikan bertahan di lingkungan tercemar.
Meski ada studi lain di Sungai Ciliwung wilayah Bogor-Depok-Jakarta yang sempat menunjukkan kadar logam berat di bawah ambang batas, studi lain yang meneliti wilayah hilir Jakarta dengan tingkat pencemaran lebih tinggi secara konsisten menemukan kandungan logam berat lebih besar, terutama timbal, kadmium, merkuri, dan arsen.
3. Ikan Sapu-sapu di Wilayah Tercemar Tidak Aman Meski Sudah Dimasak
Baca Juga:Kembali Merosot! Harga Emas Antam Hari Ini 23 April 2026 Turun Lagi Rp 25.000 Per Gram, Cek DetailnyaKarawang Menguat Sebagai Hub Logistik, Lippo Karawang Hadirkan Ecoprime Untuk Tangkap Permintaan Tinggi
Logam berat yang terkandung dalam ikan sapu-sapu bersifat bioakumulatif dan tidak bisa dihilangkan melalui proses memasak.
Artinya, pengolahan seperti digoreng atau dijadikan siomay tidak akan mengurangi kandungan zat berbahaya tersebut.
Konsumsi ikan sapu-sapu tercemar dalam jangka panjang berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
4. Ikan Sapu-sapu termasuk Spesies Invasif yang Merusak Sungai dan Picu Banjir
Ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai jenis ikan asing invasif sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020. Spesies ini mampu menguasai sumber makanan di perairan dan bahkan memangsa telur serta larva ikan lokal. Kondisi tersebut menghambat regenerasi spesies asli dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Selain mengganggu rantai makanan, ikan sapu-sapu juga berdampak pada kondisi fisik sungai. Pasalnya, ikan sapu-sapu gemar membuat lubang di bantaran sungai sebagai sarang, dan hal ini bisa memicu erosi, pendangkalan, dan peningkatan kekeruhan air.
Dalam konteks perkotaan seperti Jakarta, kerusakan tersebut berpotensi memperparah risiko banjir dan degradasi infrastruktur sungai.
5. Ikan Sapu-sapu Lebih Aman untuk Non-Pangan
Baca Juga:SPPG Belum Ber-SLHS di Kabupaten Bekasi Disorot, Legislator Minta BGN BertindakPemkab Bekasi Kerahkan 32 Tim Awasi Hewan Kurban Jelang Idul Adha
Sejumlah pakar menyarankan agar ikan sapu-sapu tidak dikonsumsi oleh manusia, melainkan dialihfungsi untuk kebutuhan non-konsumsi seperti pupuk organik. Pemanfaatan tersebut dinilai lebih aman, kendati tetap butuh pengawasan terhadap kandungan logam berat agar tidak berdampak pada rantai pangan secara tidak langsung.
