KBEonline.id, BEKASI – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Wilayah II mulai melakukan pengangkatan sampah dalam jumlah besar di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar yang berdiri diatas lahan pribadi milik seorang mantan Kepala Dusun di Kampung Turi, Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Rabu (15/04/2026).
Kepala UPTD Wilayah II DLH Kabupaten Bekasi, Adi Suryana, mengatakan pihaknya mengerahkan 18 armada truk dan satu alat berat untuk menangani tumpukan sampah di lokasi tersebut.
“Dari UPTD Wilayah II kita mengerahkan 18 armada truk, masing-masing berkapasitas 4 ton. Saat ini proses pengangkatan masih berjalan, dibantu satu unit ekskavator,” kata Adi Suryana kepada Cikarang Ekspres.
Baca Juga:Warga Tulungagung Geger, Lansia Berusia 64 Tahun Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Dapur RumahnyaGunung Merapi Luncurkan Guguran Lava 13 Kali Hari Ini 15 April 2026
Seluruh sampah yang diangkut akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, yang merupakan milik Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Adi memperkirakan total volume sampah di lokasi mencapai sekitar 20.000 ton. Namun, untuk durasi pengangkutan, pihaknya masih menunggu instruksi lebih lanjut dari pimpinan.
“Untuk berapa lama pelaksanaannya, kita masih menunggu instruksi. Hari ini baru mulai pengangkatan,” ujarnya.
Ia mengakui, pengerahan armada dalam jumlah besar berdampak pada pelayanan rutin pengangkutan sampah di wilayah lain.
“Karena armada kita sifatnya untuk pelayanan, ketika ditarik ke sini tentu berdampak terhadap layanan di tempat lain,” ungkapnya.
Adi juga menyebut kebutuhan penambahan armada menjadi hal mendesak, mengingat volume sampah yang harus ditangani cukup besar.
“Kita masih mengharapkan ada penambahan armada dari pemerintah daerah,” tambahnya.
Baca Juga:Optimis Target PAD, Bapenda Terjun Langsung Gali Pajak Hiburan dan ReklameJadwal dan Daftar Harga Tiket Polytron Indonesia Open 2026, Mulai Rp 40.000
Sementara itu, pengelola TPS, Rosada, menjelaskan bahwa lahan miliknya seluas sekitar 3.000 meter persegi dijadikan tempat penampungan sementara sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
“Karena saya prihatin, tanah saya dijadikan TPS sementara agar sampah tidak berserakan di pinggir jalan,” katanya.
Menurut Rosada, sampah yang masuk ke lokasi tersebut dipilah oleh warga setempat sebelum sisanya dibuang ke TPA Burangkeng. Aktivitas ini juga menjadi sumber penghasilan bagi warga.
“Ada sekitar 15 warga yang memilah sampah. Pagi mereka mencari, sore dijual untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
