‎Teknik Hypnoteaching Ubah Ruang Kelas Jadi Panggung Motivasi

Dedeh Kurniasih, S.Ag., M.Si
Dedeh Kurniasih, S.Ag., M.Si ‎Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)
0 Komentar

Oleh: Dedeh Kurniasih, S.Ag., M.Si‎Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS)‎‎PEMANDANGAN tak biasa terlihat di ruang kelas Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Manajemen Bisnis Syariah (MBS) Institut Agama Islam Rakeyan Santang Karawang. Jika biasanya mahasiswa datang dengan wajah lesu dan mata sayu, kini mereka justru berebut duduk paling depan, mencatat antusias, bahkan enggan keluar saat jam istirahat.‎‎Dalang di balik “keajaiban” ini adalah Dosen-Dosen IAI Rakeyan Santang Karawang, dosennya banyak yang menerapkan teknik hypnoteaching untuk menyulap kelas kaku menjadi panggung motivasi. Masalah utama di kelas itu bukan materinya susah, tapi mahasiswanya belum dibuka pikirannya. Hypnoteaching itu adalah kunci dari keberhasilan cara dosen mengajar.‎‎ Dari Pesan Galak Jadi Sugesti Positif

‎Penulis menjelaskan, langkah pertama adalah merombak cara menyampaikan pesan. Alih-alih memberi perintah “Jangan malas belajar”, saya mengubahnya menjadi sugesti, Otak kalian hebat, yuk kita taklukkan rumus ini bareng-bareng. Pesan positif bekerja langsung ke pikiran bawah sadar. Filter penolakan mereka turun, materi jadi gampang masuk, jelasnya. Konsep ini sejalan dengan pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat yang menyebut komunikasi efektif harus menimbulkan pengertian dan kesenangan.‎‎ Media: Bukan Sekadar Slide, Tapi Kondisikan Otak Alpha

‎Tak cukup dengan kata-kata, saya memanfaatkan media untuk membawa mahasiswa ke gelombang otak alpha, kondisi rileks namun fokus. Saya buat cerita pengalaman-pengalaman orang yang sukses dan diselingi kata-kata hari ini yang membangun hati mereka bahagia. Slide dalam power pointpun penuh warna, gaya yang menarik serta di bubuhi gambar, bukan full tulisan. Intonasi suara saya naik-turun teratur. Menurut saya, mahasiswa yang otaknya berada di gelombang alpha lebih siap menerima pelajaran. Biasanya dosen yang ngajar sambil marah-marah bikin materinya gagal dan tidak dapat diterima dengan baik, dan akan berdampak terhadap mental mahasiswa. Yang tenang dan senyum justru bikin nagih, mahasiswa akan merasa senang jika dosen yang mengajar yang menerapkan hypnoteaching.‎‎ Komunikan dan Umpan Balik: Mahasiswa Bukan Objek ‎Kunci terakhir adalah memperlakukan mahasiswa sebagai subjek aktif. Saya selalu melakukan pacing (teknik menyamakan posisi, gerak tubuh dan bahasa) atau menyamakan frekuensi sebelum leading (tahap memimpin, mengarahkan pikiran, emosi dan perilaku siswa). Kalau mereka datang lesu karena begadang, saya sapa dulu, Capek ya? Tenang, hari ini ringan kok. Begitu merasa dipahami, mereka siap dipimpin, itu yang akan terjadi pada mereka. Saya juga jeli membaca umpan balik nonverbal. Mahasiswa yang menguap berarti butuh ice breaking (suasana yang tidak membosankan), dengan cara apa saya memecahkannya? Yaitu dengan cara membuat permainan ringan yang dirancang untuk mencairkan suasana tegang. Kalau sudah angguk-angguk fokus, berarti sugesti saya sudah masuk. Tiap ada respons, langsung saya kasih reward pujian tulus, terkadang saya berikan pujian dengan kata-kata wah kalian hebat.‎‎Metode ini terbukti ampuh. Manda, mahasiswa semester 2, mengaku ketagihan. Dulu jam 9 pagi udah ngantuk. Sekarang malah nungguin kelas saya. Memang ngajarnya kayak lagi ngobrol di kafe, tapi ilmunya dapet, itu yang mereka akui.‎‎Praktik yang dilakukan dosen merujuk pada konsep hypnoteaching yang memadukan pengajaran pikiran sadar dan bawah sadar agar pembelajaran lebih maksimal dan menyenangkan. (*)

0 Komentar