DIANTARA INVOASI DAN RASIONALITAS PETANI PEDESAAN; STUDI KASUS PENERAPAN INOVASI PRODUK BIOFERTILIZER TOKYO8

Bayu Budiandrian, S.P., M.Si, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang.
Bayu Budiandrian, S.P., M.Si, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang.
0 Komentar

Pada lapisan atas terdapat petani kaya atau elite lokal yang memiliki lahan luas, akses modal, dan pengaruh simbolik. Menariknya, posisi ini tidak selalu membuat mereka progresif. Justru karena mereka memiliki banyak yang harus dijaga—status, jaringan, reputasi—mereka sering bersikap paling konservatif. Mereka jarang menjadi adopter awal, tetapi merekamenentukan apakah sebuah praktik layak ditiru atau sebaiknyadihindari. Pertanyaannya: apakah Tokyo8 selama ini berusahameyakinkan mereka sebagai adopter, atau sebagai pemberilegitimasi?

Dengan membaca kelas petani secara berlapis, menjadi jelasbahwa tidak semua petani menanggung risiko yang sama ketikainovasi hadir. Ketika Tokyo8 ditawarkan sebagai solusi yang seragam, risiko tersebut secara tidak proporsional jatuh pada petani kelas bawah dan menengah. Di sinilah sering terjadiketegangan yang tidak terlihat: inovasi tampak inklusif di ataskertas, tetapi terasa berat di lapangan.

Maka, pertanyaan reflektif yang perlu terus diajukan adalah: kelas petani mana yang secara implisit dijadikan subjek utamadalam model Tokyo8? Apakah mereka yang paling rentan, mereka yang paling rasional, atau mereka yang paling berpengaruh? Dan apa konsekuensi etis dari pilihan tersebut?

Baca Juga:Begini Cara Nonton Live Streaming Gratis Full Pertandingan Final dan Juara Tiga Piala Presiden 2026Pecinta Rujak Salak Silakan Merapat ke Kuliner Legendaris Ma Ambreh di Kertarahayu Setu

Refleksi ini kembali mengantar kita pada satu kesadaran awal: sebelum merancang intervensi, perlu kejelasan tentang siapayang menanggung risiko, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang memberi legitimasi. Tanpa pembacaan kelas yang jernih, inovasi berpotensi memperdalam kerentanan alih-alihmenguranginya.

INOVASI PERTANIAN; DI KELAS MANA DAN DALAM PERAN APA?

Jika kita menerima bahwa petani tidak homogen—bahwamereka hidup dalam kelas sosial yang berbeda dengan tingkatrisiko dan daya tawar yang tidak setara—maka pertanyaanberikutnya tidak dapat dihindari. Bukan lagi apakah Tokyo8 baikatau tidak, melainkan di mana dan sebagai siapa Tokyo8 pertama-tama hadir dalam struktur sosial pedesaan.

Pertanyaan ini penting, karena setiap pilihan posisi akanmembawa konsekuensi sosial yang berbeda. Hadir pertama-tamadi lapisan petani paling rentan berarti menempatkan bebanperubahan pada mereka yang paling sedikit memiliki ruanguntuk gagal. Secara etis, ini problematis; secara sosiologis, inihampir pasti akan menghasilkan resistensi diam-diam. Contohpaling nyata adalah cerita pak Aranggi tentang ke engganananggota kelompok tani untuk “membayar” meskipun produktokyo8 dianggap sudah jelas-jelas “menguntungkan”.

0 Komentar