Sajogyo juga mengingatkan bahwa desa Indonesia bukankomunitas homogen. Di dalamnya terdapat stratifikasi sosial: petani gurem, petani kecil, petani menengah, hingga pemiliklahan luas. Setiap kelas memiliki kapasitas berbeda dalammenanggung kegagalan. Moral economy bekerja berbeda di tiaplapisan ini—semakin kecil skala dan aset, semakin kuat orientasipada keamanan minimum.
Di titik ini, pertanyaan yang sebelumnya menggantung menjadisemakin tajam:Jika kelas petani berbeda dalam menanggung risiko dan memberi legitimasi, lalu di kelas mana seharusnya Tokyo8 pertama-tama “hadir”, dan dalam peran apa?
Pertanyaan ini belum meminta jawaban operasional. Ia menuntutkejujuran konseptual. Apakah Tokyo8 ingin dipahami sebagaialat efisiensi produksi semata, atau sebagai bagian dari upayamengurangi kerentanan struktural petani? Apakah ia hadirsebagai eksperimen teknologi, atau sebagai penyangga rasa aman dalam sistem subsistensi yang rapuh?
Baca Juga:Begini Cara Nonton Live Streaming Gratis Full Pertandingan Final dan Juara Tiga Piala Presiden 2026Pecinta Rujak Salak Silakan Merapat ke Kuliner Legendaris Ma Ambreh di Kertarahayu Setu
Di sinilah diskusi dengan Pak Aranggi menemukan wilayah paling strategisnya: bukan pada “bagaimana menjual Tokyo8”, melainkan bagaimana memahami kehidupan yang akandimasuki oleh Tokyo8. Sebab, dalam konteks pedesaanIndonesia, teknologi tidak hanya diuji oleh hasil panen, tetapioleh kemampuannya bertahan di dalam moral economy dan struktur kerentanan yang telah lama membentuk cara petaniberpikir dan bertindak.
KETERASINGAN TEKNOLOGI YANG HADIR
Dalam banyak komunitas desa, teknologi tidak pernah hadirsebagai benda mati yang netral. Ia selalu datang membawaidentitas, niat, dan relasi. Antropologi sejak lama mengingatkanbahwa setiap teknologi adalah perpanjangan dari aktor sosialyang membawanya masuk ke dalam komunitas.
Bagi petani, pertanyaan pertama bukan “apa fungsi teknologiini?”, melainkan—sering kali tanpa diucapkan—“teknologi inimilik siapa?” Siapa yang berada di belakangnya, siapa yang merekomendasikannya, dan siapa yang akan bertanggung jawabketika ia gagal.
Dalam struktur sosial desa, sesuatu yang datang dari luar selaluterlebih dahulu diperlakukan sebagai stranger. Bukan dalam arti musuh, tetapi dalam arti belum memiliki ikatan moral dan sosial. Kepercayaan tidak diberikan karena klaim ilmiah atauhasil uji laboratorium, melainkan karena rekam jejak relasi.
Di sinilah teknologi diuji, bukan di tanah, tetapi di jaringansosial.
