DIANTARA INVOASI DAN RASIONALITAS PETANI PEDESAAN; STUDI KASUS PENERAPAN INOVASI PRODUK BIOFERTILIZER TOKYO8

Bayu Budiandrian, S.P., M.Si, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang.
Bayu Budiandrian, S.P., M.Si, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang.
0 Komentar

Dari sini, pertanyaan reflektif yang layak diajukan bukanlahmengapa petani tampak enggan mengambil peluang, tetapi apayang sebenarnya sedang mereka lindungi ketika memilih jalanyang aman. Apakah inovasi seperti Tokyo8 telah cukupberbicara pada kebutuhan paling mendasar itu?

Pertanyaan yang patut terus digantungkan dalam diskusi iniadalah: apakah Tokyo8 menjamin rasa aman bagi petani, ataukah ia baru menjanjikan efisiensi yang bermakna dalamlogika pasar?

Narasi ini kembali tidak dimaksudkan untuk menutuppembahasan, melainkan untuk memperdalam kesadaran bahwakeberhasilan inovasi di pedesaan sangat ditentukan oleh kemampuannya menyentuh rasionalitas hidup petani—bukanhanya rasionalitas ekonomi.

Baca Juga:Begini Cara Nonton Live Streaming Gratis Full Pertandingan Final dan Juara Tiga Piala Presiden 2026Pecinta Rujak Salak Silakan Merapat ke Kuliner Legendaris Ma Ambreh di Kertarahayu Setu

DARI MORAL ECONOMY KE STRUKTUR KERENTANAN PEDESAAN INDONESIA

James C. Scott membantu kita memahami cara petanimengambil keputusan; Prof. Sajogyo membantu kita memahamimengapa keputusan itu menjadi masuk akal di Indonesia. Jika Scott berbicara tentang rasionalitas bertahan hidup, makaSajogyo menunjukkan bahwa rasionalitas itu lahir dari struktursosial yang secara sistematis menempatkan petani dalam kondisirawan.

Bagi Sajogyo, petani Indonesia—khususnya petani kecil dan gurem—hidup dalam apa yang bisa disebut sebagai struktursubsistensi yang rapuh. Kepemilikan lahan sempit, ketergantungan pada input eksternal, fluktuasi harga hasil panen, dan lemahnya perlindungan sosial membuat ruang kesalahanhampir tidak ada. Dalam kondisi seperti ini, kehati-hatian bukanpilihan moral, melainkan keharusan struktural.

Di titik inilah moral economy Scott menemukan tubuh sosialnyadi Indonesia. Prinsip “dahulukan selamat” bukan sekadar nilaibudaya, tetapi strategi rasional menghadapi sistem yang tidakmemberi jaring pengaman. Ketika petani menolak risiko, yang mereka tolak sesungguhnya bukan inovasi, melainkankemungkinan jatuh ke jurang kemiskinan yang lebih dalam.

Sajogyo menekankan bahwa kemiskinan pedesaan bukan hanyasoal rendahnya pendapatan, tetapi tentang kerentanan hidup—ketidakmampuan rumah tangga petani menyerap guncangan. Gagal panen, salah memilih teknologi, atau mengikuti praktikbaru yang belum mapan bisa berdampak berantai: dari utang, penurunan konsumsi, hingga retaknya relasi sosial. Dalamkonteks ini, satu keputusan teknis memiliki implikasi sosialyang panjang.

Maka, ketika Tokyo8 hadir membawa janji efisiensi input dan keberlanjutan ekologis, ia tidak masuk ke ruang hampa. Ia masuk ke dalam struktur kehidupan yang telah lama mengajarkan petani satu pelajaran penting: jangan menjadipihak yang pertama menanggung risiko. Inovasi yang tidakmenyentuh lapisan kerentanan ini, betapapun canggihnya, akandiposisikan sebagai ancaman terselubung—bukan peluang.

0 Komentar