RASIONALITAS PETANI BUKAN RASIONALITAS PASAR
Setelah memahami bahwa inovasi tidak otomatis menjadi adopsikarena bergerak dalam struktur sosial yang tidak netral, kitasampai pada lapisan yang lebih dalam: cara petani berpikir dan mengambil keputusan. Di titik ini, kesalahpahaman antara dunia inovasi dan dunia pedesaan menjadi semakin jelas.
Dalam banyak pendekatan bisnis dan teknologi, manusiadiasumsikan sebagai aktor rasional yang selalu memilih opsidengan keuntungan terbesar. Namun James C. Scott, melaluigagasan moral economy of the peasant, menunjukkan bahwaasumsi ini runtuh ketika diterapkan pada petani kecil. Rasionalitas petani bukanlah rasionalitas pasar. Ia adalahrasionalitas bertahan hidup.
Bagi petani, tujuan utama bertani bukanlah memaksimalkankeuntungan, melainkan memastikan keberlangsungan hiduprumah tangga dan posisi sosialnya. Mereka tidak mengejar profit optimal, tetapi subsistence security—keamanan minimum agar dapur tetap berasap, anak tetap sekolah, dan hubungan sosialtetap utuh. Dalam kerangka ini, pilihan yang tampak “tidakefisien” dari sudut pandang pasar justru sepenuhnya rasionaldari sudut pandang kehidupan pedesaan.
Baca Juga:Begini Cara Nonton Live Streaming Gratis Full Pertandingan Final dan Juara Tiga Piala Presiden 2026Pecinta Rujak Salak Silakan Merapat ke Kuliner Legendaris Ma Ambreh di Kertarahayu Setu
Scott mengingatkan bahwa petani hidup sangat dekat denganbatas krisis. Karena itu, mereka cenderung menghindari risikomeskipun peluang untungnya besar. Satu kegagalan tidakdipahami sebagai learning process, melainkan sebagai ancamannyata terhadap kelangsungan hidup. Di sinilah logika inovasimodern sering berbenturan dengan realitas petani.
Dalam konteks Tokyo8, pengurangan pupuk kimia—yang secarailmiah dan ekologis sangat rasional—sering dibaca secaraberbeda oleh petani. Ia bukan sekadar perubahan teknis, tetapirisiko simbolik. Kekhawatiran akan “kurang nutrisi” bukanketidaktahuan, melainkan ekspresi kecemasan yang lebih dalam: takut hasil turun, takut disalahkan keluarga, takut menyimpangdari praktik umum yang selama ini dianggap aman.
Hasil demplot yang baik sering kali tidak cukup untukmenenangkan kecemasan ini. Demplot adalah ruang terkendali; lahan sendiri adalah ruang kehidupan. Apa yang berhasil di tempat lain belum tentu aman ketika diterapkan pada sawah yang menjadi satu-satunya sandaran ekonomi rumah tangga. Di sinilah jarak antara bukti teknis dan rasa aman sosial menjadisangat nyata.
Bagi petani kecil, kegagalan satu musim tanam bukan sekadarangka kerugian. Ia adalah krisis rumah tangga: utang yang menumpuk, konsumsi yang harus ditekan, dan rasa bersalahyang dibawa ke dalam relasi keluarga. Maka, kehati-hatianpetani sering kali bukan penolakan terhadap perubahan, melainkan upaya menjaga stabilitas yang rapuh.
